Halaman

Tuesday, October 29, 2013

Taman Bunga Kami di Negeri Rantauan

Melihat kalian pertama kali waktu itu, aku terkesima pada wajah-wajah sendu,  yang penuh semangat menuntut ilmu, menyerap segala ucap dan penatku, nan menyisakan hati bersimbah peluh..
Bukan berpeluh karena lelah, tapi beban rasa haru penuh gairah, karena menyebak rasa yang tertumpah…  ya, jiwaku seolah berseru; inilah dia petualanganku di negeri yang baru..

Selalu ada cerita kita bersama sesudah itu, tentang masalah, tentang harapan, tentang cita-cita, tentang kehidupan..  
dan rajutan episodenya menjuntai panjang, menjadi hiasan di langit-langit jiwa. Sebagaimana titik-titik air mata, untaian kata hingga derai tawa, meledak kan pernak-pernik yang merona di dinding nostalgia. Ia melukis gambar kebersamaan yang padu, dalam ruang halaqoh yang selalu dirindu.

Ah, tidakkah kalian lelah walau sesaat...?
Pandangan sembab selepas kerja malam itu tak bisa menghalangi mata elang,
terantuk-antuk mendengarkan tetap tak bisa menutupi telinga tajam, 
Segala sendi dan tulang yang penat tak menyurutkan langkah-langkah melesat.. bahkan hingga ke tempat-tempat yang tidak dekat..
Kalian memang hebat.

Atau adakah kalian ingin berhenti walau sekejap...?
Dari episode kerja kita yang telah membunuh waktu rehat,
Bertambah-tambah  amanah yang melerai rindu keluarga di rumah,
Terus saja berjibaku dalam kajian-kajian yang ramah, atau bergerak dalam pelatihan-pelatihan pencerah...
Kalian adalah anugerah.

Aku dan kami, para ibu dan pemerhati, seolah tengah berlari-lari di taman hati. Kalianlah kuncup bunganya, mekar kelopaknya, bergoyang tangkai-tangkainya seirama angin, menerbangkan serbuk sari kemana ingin…
Kemanakah?

Kembali...
Kepada tanah air tercinta dengan semangat merdeka, tanpa gundah gulana.
Kepada kehidupan dengan harapan dan cita-cita, melayani ummat manusia.
Kepada kematian dengan rahmat dan ampunan, serta kesaksian perjuangan..

Dan betapa tahukah kalian? Bahwa kami adalah para penyampai yang lisannya terus tertawan, mengasihani diri akankah selamat dengan apa yang ada dalam bekalan. Berharap apa yang telah disampaikan, menjadi peringan, bukan pemberat siksaan.

Wahai taman bunga kami, indah lah selalu sepanjang hari..
Taklukkan setiap hati dengan warna-warnimu nan berseri.. bertemu dan berpisah adalah keniscayaan, namun din ini akan tegak dalam keistiqomahan..

Satu persatu kalian pergi, seribu per seribu seperti kalian akan datang lagi…dengan izin Allah.


#Episode Sungai Way, Liqo wada'an


KL, 30 Oktober 2013

2 comments: