Tidak seperti berbagai kalangan yang meng 'homeschooling'kan anak-anak dengan idealisme dan ketekunan yg luar biasa, sesungguhnya yang terjadi di rumah kami adalah keadaan 'transisi' yang terpaksa sehingga harus 'merumahkan' anak-anak sementara waktu di rumah. Kami, bukan keluarga yg menolak sistem sekolah, -walaupun tetap mengkritisi sesekali- , kami adalah keluarga yang menjadikan sekolah sebagai bagian dari kehidupan normal seperti kebanyakan masyarakat. Apalagi saya, yang notabene anak seorang kepala SDN di Indonesia sana, sejak kecil terbiasa tinggal di rumah dinas yang biasanya menempel dengan gedung sekolah, memang tidak akrab dengan dunia anak-anak tanpa sekolah. Mungkin bagi sosok ayah, saya sebagai satu-satunya anaknya yang meneruskan kuliah di sekolah keguruan, seharusnya lebih pas menjadi penerus karirnya di dunia persekolahan. Syukurlah beliau tidak kecewa walaupun 'sang penerus' yang dimaksud itu lebih memilih profesi menjadi ibu rumah tangga sepenuh masa kini (tapi banyak acara, hehe)... bahkan lebih dari itu, anaknya ini memilih 'sementara' dunia tanpa sekolah bagi cucu-cucunya di negeri jiran ini.
Awal mulanya adalah hari itu...