Halaman

Saturday, May 22, 2010

Pada Mu kutitipkan..

Kutitipkan bening matanya
dari bentuk dan warna suram
yang memutus syaraf atau menyambung gerak
Saat mataku terhalang dari menatapnya

Kutitipkan telinga tajamnya
dari suara dan bising kegilaan
yang menghentak merusak seiring kegelisahan
Kala ku tak dapat mendengarnya

Kutitipkan lidah lincahnya
dari dusta dan ledak amarah
yang mengkhianat dan mengiris tajam
ketika ku tak dapat mendekatnya

Kutitipkan hati lembutnya
dari apa yang mencemari kemurnian
agar selalu dapat menangis dalam takut dan pengharapan
dimana aku hanya mendoakan

Kutitipkan diri kesatrianya
dari hasutan pendosa dan pembangkang
yang menutup pikiran dan menggelapkan jiwa
padahal kami menyampaikan

Kutitipkan masa depannya
dari lembar lusuh sejarah peradaban
melainkan menulis dan mencerahkan harapan
dari mimpi-mimpi kita hari ini

(untuk siapa lagi.. ini untukmu yang setia, yang diteladani)

ummi, januari 2010, diedit Mei 2010

Thursday, May 20, 2010

Memaknai Pendidikan dari dalam Rumah Kita

Baru saja kita lalui tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional. Dengan momentum ini, Kami mengajak untuk mencermati sebuah refleksi tentang pendidikan, tentu dalam perspektif keislaman kita.


Pendidikan dalam sejarah ummat

Rasulullah adalah guru terbaik yang telah mendidik manusia, lengkap dengan tuntunan wahyu dan keteladanan. Rumah al Arqom adalah sekolah bagi para shabat. Masjid menjadi ruang kuliah. Duduk-duduk bersama sebagai kursus dan pelatihan. Selanjutnya, muridmurid pertama ini langsung bergerak di ruang-ruang kehidupan, dari Masjid hingga pemerintahan, dari rumahtangga hingga penaklukan. Dalam kurun waktu sebelum hijrah, kita belajar tentang pondasi, Rasulullah menanamkan aqidah yang kokoh. Dalam periode pasca hijrah, kita belajar tentang diskusi dan ekspansi, Rasulullah membangun sistem dan memimpin negara baru yang disegani. Kita dapat mengambil pelajaran yang teramat banyak dari pendidikan di kurun kenabian, satu diantaranya, bahwa pendidikan yang berhasil sangat ditentukan oleh sang pendidik. Dan Rasulullah sebaik-baik teladan.

Pada periode khilafah Islam, pendidikan adalah ciri khas yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan peradaban Islam. Ciri keilmuan lewat universitas-universitas yang dibangun, juga perpustakaan bersistem canggih serta arsitektur berkelas masih dapat dilihat sisa-sisanya hari ini. Sistemnya terus diwariskan hingga ditiru barat sekarang, kecuali system pendidikan akidah dan akhlaq nya. Baju toga hitam dalam wisuda itu adalah warisan ulama, hitam diambil dari warna kain ka’bah, dan topi segi empat itu (di Indonesia segi lima, pancasila) menandakan ka’bah. Peradaban barat punya hutang terhadap peradaban Islam. Dulu, kala Bashrah bermandi cahaya, Eropa masih gelap dan penuh rawa. Saat ummat Islam telah menemukan sabun, mereka menganggap mandi aktifitas berbahaya. Dalam kurun panjang khilafah kita menarik makna, pendidikan adalah peradaban.

Dalam sejarah Indonesia, lewat dakwah Islam, pendidikan formal kala itu mulai membangun bentuknya. Boleh dikatakan, para ulama berjihad lewat pendidikan. Lewat masjid, pesantren dan perguruan, lahirlah kalangan terdidik dari para ulama dan santri yang membentuk pergerakan-pergerakan kemerdekaan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaannya. Dalam kurun penjajahan atas bangsa ini kita dapat belajar, di antaranya, bahwa pendidikan adalah pembebasan, pembebasan yang bermakna bahwa kemerdekaan asasi adalah tauhidullah, dan jalan penegakkannya adalah mengusir penjajah kafir dari tanah air.


Antara Ilmu Akhirat dan ilmu Dunia

Pendidikan kita tidak mengacu pada sekularisasi ilmu. Padahal semua ilmu itu dari Allah. Seorang murid yang tengah belajar pelajaran fisika sesungguhnya tengah mendalami ayat-ayat Allah, juga dalam mempelajari ilmu-ilmu sosial hingga filsafat. Adalah tantangan bagi para pendidik untuk selalu menjelaskan kajian keilmuan dari sudut keimanan atau sebaliknya. Pemahaman yang kita kehendaki adalah bahwa setiap ilmu yang membawa mashlahat adalah hikmah, dimana kaum musliminlah yang paling berhak menguasainya demi kemashalahatan alam semesta.

Dalam profil ilmuwan muslim kita menyaksikan Jabir ibnu Hayyan sang bapaknya ilmu kimia, Ia memiliki dua ruang utama berdampingan di dalam rumahnya, satu ruangan eksperimen untuk penemuan imiahnya, satu lagi ruang untuk zikir dan shalat malam. Juga profil imam Syafi’I, yang panahnya tak pernah meleset dari sasaran, dan masih banyak lagi.


Ruang Belajar Kita

Banyak dari kita masih menganggap kecerdasan seseorang dilihat hanya dari satu aspek, yakni kognitifnya saja. Anak yang bodoh masih sering dimaknai sebagai anak yang nilai-nilai pelajarannya jelek di sekolah. Ini tidak adil, sebab setiap anak sebenarnya memiliki kecerdasan, yang jensinya berbeda-beda. Itulah maka dalam Islam, pendidikan aqidah dan akhlaq begitu utama. Jika anak memiliki aqidah dan akhlaq yang baik, kecerdasannya akan menyesuaikan. Ada satu tulisan yang pernah mengungkapkan satu jenis kecerdasan, sebagai tambahan dari multiple intelegencesnya Howard Gardner, yakni kecerdasan eksistensial. Kecerdasan eksistensial ini sangat menarik karena dapat melejitkan 8 jenis kecerdasan lainnya. Ternyata, makna dari kecerdasan eksistensial adalah suatu keadaan pemahaman seseorang tentang hakikat dan tujuan dari eksistensinya dalam kehidupan ini. Hal ini sesungguhnya terangkum dalam pelajaran aqidah dan akhlaq dalam Islam.

Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh riwayat pendidikan formalnya. Sebab untuk bertahan hidup, orang membutuhkan bekal-bekal kecerdasan yang tidak hanya di dapat di sekolah. Maka dari itu kita sering mendengar kisah unik orang-orang berpengaruh dalam sejarah. Ada Einstein yang pernah dapat nilai F di pelajaran Fisika. Ada Thomas Alpha Edison yang pernah dijuluki otak udang oleh kawan-kawan sekolahnya, ada Gusdur yang pernah tidak naik kelas, dan banyak kisah menarik dibalik perjalanan kehidupan para tokoh seperti mereka. Hal ini menjadi contoh bahwa pembelajaran yang dihadirkan dalam diri seseorang membutuhkan waktu, ruang alam dan ruang pengalaman. Kita menjadi sadar bahwa faktor lingkungan sangat penting untuk membangun kecerdasan. Lalu; percayakah kita akan keberhasilan masa depan anak-anak kita jika kita menyerahkan pendidikannya hanya kepada sekolah semata-mata?


Pendidikan di Sekolah Pertama

Al Ummu madrastul ula, ibu adalah sekolah pertama. kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam. Ibu, adalah sekolah tanpa batasan ruang dan cara, perpustakaan rujukan anak yang paling lengkap dan dipercaya, mata air kasih sayang yang tidak pernah kering, tempat belajar, bertanya, memperhatikan dan belajar menyampaikan, memahami perasaan dan mencurahkan, tempat anak merasakan aman. Anak belajar dari ibu lewat sentuhan, ucapan-ucapan dan buaian tidurnya. Anak-anak selalu dapat belajar lewat ibunya, dan itu pengalaman yang sangat penting. Kita ingat imam Syafi’I, bersama kenangan manis tentang ibundanya, ia menulis satu kitab fiqih yang sangat terkenal itu, al Umm judulnya, artinya ibu, yang memang ia dedikasikan untuk ibundanya tercinta.

Kita telah menyaksikan, bahwa pendidikan dimulai di rumah-rumah muslim lewat tangan-tangan para ibunda. Peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh mangabaikan peningkatan kualitas para ibu dan calon ibu.


(sudah dipublish di buletin As Syirkah edisi Mei 2010)

Ummu Wafi

10 Mei 2010

Harapanku... gemuruh dalam diam

Sebelum Kau hadir, aku berpuisi, andai akan Allah jadikan lagi seorang Umar bin Abdul Aziz, Muhammad al Fatih, dan pahlawan semisal mereka di abad ini, semoga Allah jadikan aku ibundanya...
Dan kau hadir dalam kandungan, tanpa kesulitan fisik yang berarti. Saat para ibunda cerdas rajin mengajak janin berbicara, aku malu hati berbicara padamu. Saat para orangtua berprestasi memperdengarkan orchestra juga membacakan buku, aku hanya menyanyi sendiri dan membaca buku dalam sepi. Aku andalkan satu buku saja, karena mimpiku, kubaca dengan cepat-cepat karena tebalnya sebuah karya imam Suyuthi: Tarikh Khulafa. Membaca al Qur'an?, ah betapa mindernya aku, dan sang ayahnya yang hafal 30 juz al Qur'an pun begitu sibuk dan pemalu untuk banyak-banyak memperdengarkan alqur'an secara langsung kepadamu. Semoga bukan karena kami tak menghargaimu nak, tapi mungkin karena kami begitu canggung dengan kehadiranmu..
Ibunda penyabar bisa mendidik janin dengan kestabilan emosinya, aku ibunda yang kerap menyimpan amarah dan egois, padahal aku sedang mengandungmu. Begitu juga caraku mengisi waktu bersamamu, lebih banyak kuhabiskan di rumah.. semoga tidak berarti aku sedang miskin amal shalih.
Lalu, kaupun terlahir.. atas karunia Allah yang tak ternilai ini, kau begitu kusayang.. kau adalah kesayangan kami, namun aku segera tahu, aku masih harus belajar bagaimana caranya menyayangimu...
Putraku, anak pertamaku... Kini kau tumbuh sempurna, badanmu tidak gemuk, biasa saja. Gigimu ompong di depan, dan ada bekas luka dan jahitan di dahimu. Rambutmu bergelombang lembut, kulitmu kuning kecoklatan. Soal kecerdasan, di usiamu yang ke 5, kau belum bisa membaca tulisan latin sebagaimana anak-anak luarbiasa banyak yang sudah bisa membacanya di usia 2 tahun. Juga Iqro, betapapun kadang begitu galaknya ummi memintamu belajar membacanya, kau mandeg di iqro 3. Urusan bicara, kau masih keliru kalimat pasif dan kalimat aktif, belum lagi kosakatamu yang cukup terbatas, apalagi bahasa asing, jangankan Arab, Inggris pun belum. Mungkin ummimu ini kurang memberi rangsangan, atau ummi memang kurang pandai bercakap-cakap denganmu, apalgi pake bahasa asing. Tapi kau kini sudah masuk TK, ada lah sedikit keterampilan menulis dan membaca yang mulai bisa kau ikuti.
Soal pengendalian emosi, kutahu betapa kita sering perang bathin setiap hari.. dan kau selalu ingin menang sendiri, aku hampir terbiasa, terbiasa berusaha memenangkan peperangan denganmu yang masih kecil, ya, tapi aku juga belajar banyak, bahwa kita punya banyak persamaan, sama-sama mau menang. Soal menyelesaikan masalah dan kemandirian, kau sering begitu mengandalkan ummi, bahkan untuk berpakaian.. kau minta dilayani. Kau masih sering menangis keras persis adikmu yang masih kecil, juga kerap mengganggu dan mengucapkan kalimat yang kurang lembut (kalau tidak mau dikatakan teriak-teriak) kepada yang lebih tua..
Soal motorik, kau main sepeda begitu kau dibelikan sepeda, dan belum bisa berlatih dengan sepeda anak lain. Pergaulanmu normal-normal saja, cenderung pemalu tapi mudah tersinggung, agak merepotkan.. karena dengan begitu, tidak semua anak cocok jadi temanmu. Kau itu, polos-polos wangkeng... just the way u are. Namun kutahu kau berhati lembut dan penyayang, mengngat kau menangisi kura-kuramu yang mati semalaman.
Kini, di sisi tubuhmu yang tertidur lelap, dalam aroma ompol mu yang menyeruak, aku ingin menyampaikan gemuruh harapanku... dalam diamku, di tulisan ini yang mungkin tak perlu kau baca.
Tak kan kulepas mimpiku padamu, Nak.. karena Allahlah yang mengizinkan hatiku mendekapnya. Kau adalah anak super ku, karena kekuranganmu adalah pelajaran bagi kita sebagaimana kelebihanmu ada di hatimu.. bagiku, kau tetap pahlawan yang kucari-cari.
Mungkin ummi begitu kekurangan membekali dan mendidikmu selama ini, tapi ummi tak ingin berhenti. Ummi tak akan berhenti berharap, bahwa dengan izin Allah, Kau akan memnjadi muslim pemimpin.. Semoga Allah mendidikmu, dan mendidik ummi dalam mendidikmu.
Anakku, apakah aku harus memaksakanmu masuk sekolah internasional agar kau berwawasan internasional? haruskah kau ikut kursus membaca sampai terlatih sebelum masuk sekolah dasar? Haruskah kau kupaksa berdisplin melewati hari-harimu? Sebanyak apa aku melarangmu nonton TV, atau bermain berlama-lama? Bagaimana memancingmu gemar mengaji sebagaimana gemarnya kau bermain? Bagaimana bersikap lembut dengan keras kepala nya keinginanmu.. atau berkeras hati kepada jiwamu yang begitu sensitif?
Anakku.. Aku lemah karena aku begitu sulit menciptakan lingkungan super untuk merangsang potensimu.. karena aku tak sendiri. Aku sering merasa payah bila melihatmu mengeluh capek atau merasa malas. Aku habis akal jika kau sudah menawar begitu pandai bila kupaksa mengaji.. Aku sering terpancing emosi atas perilaku keras dan permintaan tak masuk akal dari mulutmu yang terdengar nyaring.. aku tetap ibu yang emosionil.
Sudah kuputuskan bahwa aku akan harus terus belajar dan beristighfar.. mungkin terasa jauh antara harapan dan perbuatan.
Pahlawanku, Wafi Muqtada Ahmad... Ku titipkan kau pada Allah yang akan selalu menjaga, mendidik, memeliharamu dari kemaksiatan.. lewat doa-doaku setiap hari. Mungkin ummi mu ini tak pandai mengajarimu hal-hal di masa kecil, tapi semoga kau bisa memutuskan banyak hal positif dengan tekadmu yang membaja.
Sungguh Wafiku.. kau akan menjadi penghafal Al Qur'an, dengan mudah, jika kau sudah berazzam, bukan karena ummi yang meamaksa-maksa. Bila sudah tiba waktunya, kau akan bisa membaca dan menulis sendiri. Bila kau sudah merasa butuh informasi, semoga minat bacamu akan meninggi. Bila kau sudah menyaksikan lingkungan dan dunia, semoga kau memutuskan untuk menjadi agen perubahan yang membawa banyak mashlahat dalam kebangkitan ummat. Dan karena keputusanmu sendiri, semoga kau selalu menghindari maksiat dan mencari amal-amal shalih, hingga kau rengkuh syahid yang mengantarkan aku dan keluarga kita juga masuk surga bersama-sama...
Aku, semoga tengah berusaha, salah satunya dengan tidak memaksamu, dengan tidak menambah ruwet hatimu yang masih kanak-kanak..
Anakku wafi, berbahagialah... ceriakan hari-harimu, kenali kebaikan dan keburukan agar kau bisa melaksanakan yang satu dan meninggalkan yang lainnya, dengan keputusanmu sendiri.. karena kau seorang pemimpin...
Ummimu ini bermimpi.. hanya Allah yang tahu...

21 Mei 2010

ummu Wafi