Suatu ketika, Saat Kalian tertidur...
Rabbanaa hablana min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa..
Sunday, January 13, 2019
Thursday, August 11, 2016
Rumah Kami (2) Menghafal Al Qur'an dengan Yusmi
Dunia ribut harian di rumah, lima orang anak, tiga di antaranya balita, tanpa sekolah, bersama ibu yang pikirannya asyik berkelana (hehe), dan mereka, anak-anak yang mudah bosan itu, ditantang untuk bisa menyelesaikan hafalan al Qur'an, selagi usia belia.
Bagaimana caranya?
Saya, sang ibu dalam paragraf di atas itu pun hampir berkata, mustahil, atau setidaknya, hal itu terlalu berat...
Hingga suatu hari...
Karena anak-anak jenuh dengan rutinitas rumahan selama setahun terakhir tanpa komunitas belajar apapun kecuali mentoring pekanannya, akhirnya kami putuskan mereka ikut les matematika.
Lho kok les matematika? kenapa bukan les yang lain? Ini apa hubungannya?
Karena kekurangan anak-anak mulai nampak setelah lama tidak sekolah, jarang dapat PR, dan aktifitas terlalu bebas, mereka jadi lambat dalam menghitung. Bila ibunya memberi tugas, mereka menunjukkan keluh kesah alias berdalih karena malas. Masa ditanya 5 tambah 7 aja perlu waktu lama untuk mikir, loading dulu kayak internet mau abis kuotanya. Padahal matematika itu logika, salah satu ilmu dasar yang perlu dikuasai anak untuk masa depannya, iya kan? yaa, setidaknya ga mudah ditipu sama pedagang yang curang kan nantinya (lho?).. hehe...
prihatin, akhirnya, dengan sisa-sisa 'pundi emas' yang tersimpan, kami daftarkan dua anak kami, 'Along' Wafi dan 'kak Ngah' Bina ikut les matematika di K***n, -maaf nih, ga boleh nyebut iklan-. Kenapa kita pilih di K***n, alasannya, karena deket sama rumah. Ya begitulah kami, simpel simpel aja ternyata alasannya.
Tenang tenang, ini mau dijelaskan hubungan antara les matematika sama menghafal al Qur'an.
Jadi, setelah dua anak kami masuk les, seketika sadarlah kami bahwa les ini pastinya berat buat anak sekolahan. Bayangin ya, ini les, malah nambahin PR. setiap minggu cuma dua pertemuan, tapi PR nya setiap hari ada, masing-masing setidanya dua paket, dan waktunya dicatat, sebaiknya 10 menit per paket. Bagi yang anaknya pernah ikut les ini paham pasti. Nah, tapi, bagi anak-anak kami, saya perhatikan ini malah cukup baik, pas untuk mereka saat ini, sbb mereka memang tidak banyak beban PR selama ini, jadi les ini bisa mengisi mood belajar harian mereka. No days without math, begitu katanya.
Suatu sore, saat memperhatikan mereka mengerjakan paket-paket PR les matematikanya, yang mereka kerjakan setiap hari apapun kondisinya, saya (dan suami) kok sama-sama terinspirasi, kok bisa bareng gitu ya dapat inspirasinya?, hehe... sehati sejiwa... Kami sama-sama berandai-andai, kalau saja menghafal al Qur'an bisa dipaksa tekun seperti ini. Setiap hari diberi paket hafalan yang bisa 'memaksa' mereka dan juga pembimbingnya dalam mencapai target hafalan sesuai kemampuannya. Pasti lebih bagus, karena Al Qur'an tentunya lebih istimewa, kalam Allah.
Setelah perenungan panjang dan diskusi siang malam di markas dakwah kami, lahirlah suatu ide, konsep menghafal al Qur'an. Konsep ini, bukan konsep yang spektakuler, memang tidak semudah tersenyum, juga tidak secepat cahaya. Konsep ini lahir dari pengalaman suami di dunia tahfizh Qur'an sebagai pengajar, dan pendalaman saya di dunia belajar anak-anak,yang sering jadi ban serep dalam menerima setoran anak-anak di rumah. Mungkin ini hanya sebuah jalan bagi pilihan individu untuk menghafal, ya, menghafal seperti biasa, hanya...seolah ia memberi bangunan untuk ruang-ruang ketekunan kita. Karena ketekunan, adalah satu di antara sekian hal terpenting dalam menghafal Al Qur'an.
Konsep itu kami beri nama Yusmi. Artinya 'mengangkat tinggi'.
Sudah hampir sebulan konsep ini kami ujicobakan di laboratorium sepenuh masa kami, Wafi, Bina hingga Yahya. Bagi saya ibunya, konsep ini memberi perangkat yang sangat membantu dalam kemandirian anak-anak ketika menghafal dan muraja'ah. Juga memudahkan ibunya ini untuk mengevaluasinya.
Bagaimana konsepnya?
Sederhana.
Yusmi adalah paket menghafal harian sesuai kemampuan anak. Setiap anak mendapat PR berupa satu paket yang berisi:
1. Ayat yang akan dihafal (plus terjemah)
2. Tabel gundal/torus untuk coretan bacaan selama menghafal
3. Tugas Muraja'ah hafalan baru
4. Tugas Muraja'ah hafalan lama
5. Lembaran mushaf (tempat ayat yg sedang dihafal)
6. kotak nilai/evaluasi/simakan/waktu
7. kotak paraf pembimbing dan ortu
banyak?
ya, tapi cukup dengan satu booklet kecil berisi maksimal 8 helai, dan mereka bisa menghafal di rumah secara lebih mandiri. Dan ingat, satu booklet untuk sehari.
Repotnya? gimana mau buat ?
(bersambung)
Tuesday, August 2, 2016
Sang Jawara
Suatu siang di pemukiman dekat pondok pesantren di kampung Cipayung Jaya, kediaman baru kami saat itu.
Mpok Juju, begitu panggilan kami thd tetanggaku ini, begitu terpana mengetahui bahwa aku asli keturunan depok juga. Selalunya, kata beliau, yg mengasuh ponpes sblm ust Yusuf ini dari jauh, beda kota beda provinsi. Seperti halnya ust sebelum kami, ust Fauzan namanya, beliau berasal dari Sumatera.
Saat kusampaikan bahwa ayahku asli dari Parungbingung, dia begitu antusias dan nampak berpikir, lalu segera menyebut satu nama dalam tanya: "Eh, umi tau ga ama Pak Na'amin, dukun.. tukang ngobatin orang? Rumahnya di Gondang, Parungbingung. Itu dulu kita kan kalo ke Gondang berobat ke sono... Terkenal banget dah. Udah meninggal tapi", ujarnya nyaring khas.
Waduh... Deg, aku terdiam dalam terkejut, hingga syukurlah kesadaranku mengambil alih situasi, dan kembali bisa menyambung pembicaraan normal dengan mpok Juju dan keluarganya yang ramah.
Ya, nama Na'amin, begitu istimewa, membawaku pada fragmen kenangan bahkan spt legenda bagi dunia kecil ku. Walau aku hanya mendapat potongan-potongan kecil kisahnya, aku merasa dia cerita yang tetap berguna.
Di antara seluruh kisah yg pernah kudengar tentang kong Naamin, demikian beliau kupanggil, bagian favoritku adalah kisah taubatnya beliau. Konon kabarnya beliau dulu seorang jawara yang telah melewati pertapaan di banyak gunung utk mencari kesaktian, namun terpuruk dengan kehidupan yang sulit akibat pergulatan hidup pada masa itu, bahkan hampir menyisakan keluarga yang terlantar tak berdaya.
Menjadi putera seorang tokoh, dan menjadi jawara pada masanya, tidak mesti menjadikan seseorang sukses, ia mmg terkenal, orang banyak datang utk meminta bantuan atas 'kesaktiannya', tapi itu tidak membuatnya kaya.
Aku pernah mendengar kisah, saat rumah tinggal keluarga kong Naamin harus tertimpa air hujan, masuk ke dalam rumah, karena tiada lagi atap. Katanya, saat itu atap rumah harus diangkat sebagai harga dari pertaruhan yg dilakukannya.
Ada kisah anak-anak kong Naamin yang lapar akan masuk ke dapur dan tak bertanya pada sang ibu utk tahu ada makanan atau tidak, cukup menginjak dapur sekedar meninjau, apakah terasa panas atau tidak,jika panas berarti sang ibu memasak, jika tdk panas berarti tdk ada makanan yg bisa dimakan utk hari itu.
Hidup yang susah, diperparah dgn musim paceklik. Namun, di sinilah agaknya hidupnya mulai berubah. Kong Naamin bertekad tdk ingin menyusahkan keluarga lagi. Beliau pun bertaubat.
Saat-saat hidayah itu datang bertepatan dengan hadirnya sebuah pengajian. Beliau ikut pengajian ini, yg di kemudian hari merupakan cikal bakal berdirinya Ormas Muhammadiyah di kota Depok. Di sini ada kisah tersendiri, ttg penentangan warga kampung yg menganggap pengajian itu sesat. Bahkan fitnah yg membuat rumah pengajian diserbu masyarakat. dilempari batu, shg peserta pengajian hrs menyelamatkan diri.
Kisah perjuangan pribadinya sebagai pencari nafkah, adalah pekerjaannya menjual minuman cincau yang diracik sendiri lalu pergi ke Beos (stasiun Kota) utk berdagang di sana, meninggalkan keluarga berhari-hari menjemput rizki.
Beliau mgkn pernah dikenal sebagai dukun, namun setelah taubat semua jimatnya sdh dibuang katanya, segala hal yg terkait praktek syirik pun sdh dibersihkannya. Namun orang-orang ttp datang utk berobat kepadanya.
Di masa kecilku, aku masih menyaksikannya meracik obat, membungkusnya dan meresepkannya utk para pelanggan, ia tdk minta bayaran, seikhlasnya.
Datang kepadanya orang dengan berbagai penyakit, dari demam hingga yang ingin mendapat jodoh. Dari berbagai kampung di kota depok.
Dan apapun penyakitnya, obat yg diberikan hanya puyer satu jenis itu saja. Beliau akan menasihati si sakit, memberi tahu ramuan tradisional kadang menyuruh si sakit berpuasa serta mendoakannya.
Kong Naamin mendapat tempat tersendiri, walaupun sdh tdk ditakuti karena ke'sakti'an ilmu nya, orang-orang masih percaya bahwa beliau bisa dimintai pertolongan. Al kisah ada orang demam yang berhasil disembuhkan dengan memandikannya tengah malam, atau prestasinya berhasil menjodohkan banyak pasangan di kampung-kampung yg masih ada dan sdh beranak cucu hingga kini.
Cerita fenomenal ttg masa lalu kong Naamin sebagai jawara masih sempat kudengar dari kalangan tua yg kadang berkunjung ke rumahku, kadang aku tak begitu percaya, nyaris spt cerita film pendekar zaman dahulu.
Aku bersyukur sempat menyaksikan sang jawara itu di masa hidupnya, kala beliau tampak sbg sosok tua dengan rambut memutih yang sangat ramah. Mengerjakan apa yg bisa dikerjakannya sebagai pria tua biasa, dari melayani orang yang ingin diobati hingga membantu tukang bangunan membangun rumah kami, sangat bersahaja.
Aku masih ingat momen duka itu, saat orang mengumumkan bahwa beliau sdh dipanggil Allah swt, katanya beliau meninggal di malam hari, sesuai jadwal kebiasaannya utk shalat malam. Saat itu, saat orang2 sibuk hendak melayat, aku yang masih sekitar kelas 5 SD waktu itu, hanya duduk diam di atas pohon Waru dekat rumahku, dgn perasaan tak menentu.
Suatu hari, cerita ibuku, ayahku yang seorang guru PNS pernah didatangi seseorang utk berobat. Beliau berharap ayahku bisa berbuat seperti kong Naamin biasa berbuat. Tapi ayahku segera menyatakan bahwa orang itu salah alamat, beliau tdk bisa. Tidak ada penurunan ilmu apa-apa, katanya.
Ya, kong Naamin atau Pak Na'amin, nama yg disebut pok Juju itu, beliau adalah kakekku. Ayah dari ayahku.
Aku ingin tersenyum saat mengenangnya, aku tdk ingin mengenangnya sbg dukun spt kata pok Juju, aku akan menceritakan kpd anak-anakku, bahwa kong Naamin, adalah kakek dan buyut yg seorang pejuang juga insyaAllah. Berjuang utk kembali ke jalan yang lurus yang kisahnya bisa diambil sebagai pelajaran. semoga Allah menerima taubatnya, menerima amalnya dan memberkahi keturunannya dgn kefaqihan dalam agama. Aamiin.
Mpok Juju, begitu panggilan kami thd tetanggaku ini, begitu terpana mengetahui bahwa aku asli keturunan depok juga. Selalunya, kata beliau, yg mengasuh ponpes sblm ust Yusuf ini dari jauh, beda kota beda provinsi. Seperti halnya ust sebelum kami, ust Fauzan namanya, beliau berasal dari Sumatera.
Saat kusampaikan bahwa ayahku asli dari Parungbingung, dia begitu antusias dan nampak berpikir, lalu segera menyebut satu nama dalam tanya: "Eh, umi tau ga ama Pak Na'amin, dukun.. tukang ngobatin orang? Rumahnya di Gondang, Parungbingung. Itu dulu kita kan kalo ke Gondang berobat ke sono... Terkenal banget dah. Udah meninggal tapi", ujarnya nyaring khas.
Waduh... Deg, aku terdiam dalam terkejut, hingga syukurlah kesadaranku mengambil alih situasi, dan kembali bisa menyambung pembicaraan normal dengan mpok Juju dan keluarganya yang ramah.
Ya, nama Na'amin, begitu istimewa, membawaku pada fragmen kenangan bahkan spt legenda bagi dunia kecil ku. Walau aku hanya mendapat potongan-potongan kecil kisahnya, aku merasa dia cerita yang tetap berguna.
Di antara seluruh kisah yg pernah kudengar tentang kong Naamin, demikian beliau kupanggil, bagian favoritku adalah kisah taubatnya beliau. Konon kabarnya beliau dulu seorang jawara yang telah melewati pertapaan di banyak gunung utk mencari kesaktian, namun terpuruk dengan kehidupan yang sulit akibat pergulatan hidup pada masa itu, bahkan hampir menyisakan keluarga yang terlantar tak berdaya.
Menjadi putera seorang tokoh, dan menjadi jawara pada masanya, tidak mesti menjadikan seseorang sukses, ia mmg terkenal, orang banyak datang utk meminta bantuan atas 'kesaktiannya', tapi itu tidak membuatnya kaya.
Aku pernah mendengar kisah, saat rumah tinggal keluarga kong Naamin harus tertimpa air hujan, masuk ke dalam rumah, karena tiada lagi atap. Katanya, saat itu atap rumah harus diangkat sebagai harga dari pertaruhan yg dilakukannya.
Ada kisah anak-anak kong Naamin yang lapar akan masuk ke dapur dan tak bertanya pada sang ibu utk tahu ada makanan atau tidak, cukup menginjak dapur sekedar meninjau, apakah terasa panas atau tidak,jika panas berarti sang ibu memasak, jika tdk panas berarti tdk ada makanan yg bisa dimakan utk hari itu.
Hidup yang susah, diperparah dgn musim paceklik. Namun, di sinilah agaknya hidupnya mulai berubah. Kong Naamin bertekad tdk ingin menyusahkan keluarga lagi. Beliau pun bertaubat.
Saat-saat hidayah itu datang bertepatan dengan hadirnya sebuah pengajian. Beliau ikut pengajian ini, yg di kemudian hari merupakan cikal bakal berdirinya Ormas Muhammadiyah di kota Depok. Di sini ada kisah tersendiri, ttg penentangan warga kampung yg menganggap pengajian itu sesat. Bahkan fitnah yg membuat rumah pengajian diserbu masyarakat. dilempari batu, shg peserta pengajian hrs menyelamatkan diri.
Kisah perjuangan pribadinya sebagai pencari nafkah, adalah pekerjaannya menjual minuman cincau yang diracik sendiri lalu pergi ke Beos (stasiun Kota) utk berdagang di sana, meninggalkan keluarga berhari-hari menjemput rizki.
Beliau mgkn pernah dikenal sebagai dukun, namun setelah taubat semua jimatnya sdh dibuang katanya, segala hal yg terkait praktek syirik pun sdh dibersihkannya. Namun orang-orang ttp datang utk berobat kepadanya.
Di masa kecilku, aku masih menyaksikannya meracik obat, membungkusnya dan meresepkannya utk para pelanggan, ia tdk minta bayaran, seikhlasnya.
Datang kepadanya orang dengan berbagai penyakit, dari demam hingga yang ingin mendapat jodoh. Dari berbagai kampung di kota depok.
Dan apapun penyakitnya, obat yg diberikan hanya puyer satu jenis itu saja. Beliau akan menasihati si sakit, memberi tahu ramuan tradisional kadang menyuruh si sakit berpuasa serta mendoakannya.
Kong Naamin mendapat tempat tersendiri, walaupun sdh tdk ditakuti karena ke'sakti'an ilmu nya, orang-orang masih percaya bahwa beliau bisa dimintai pertolongan. Al kisah ada orang demam yang berhasil disembuhkan dengan memandikannya tengah malam, atau prestasinya berhasil menjodohkan banyak pasangan di kampung-kampung yg masih ada dan sdh beranak cucu hingga kini.
Cerita fenomenal ttg masa lalu kong Naamin sebagai jawara masih sempat kudengar dari kalangan tua yg kadang berkunjung ke rumahku, kadang aku tak begitu percaya, nyaris spt cerita film pendekar zaman dahulu.
Aku bersyukur sempat menyaksikan sang jawara itu di masa hidupnya, kala beliau tampak sbg sosok tua dengan rambut memutih yang sangat ramah. Mengerjakan apa yg bisa dikerjakannya sebagai pria tua biasa, dari melayani orang yang ingin diobati hingga membantu tukang bangunan membangun rumah kami, sangat bersahaja.
Aku masih ingat momen duka itu, saat orang mengumumkan bahwa beliau sdh dipanggil Allah swt, katanya beliau meninggal di malam hari, sesuai jadwal kebiasaannya utk shalat malam. Saat itu, saat orang2 sibuk hendak melayat, aku yang masih sekitar kelas 5 SD waktu itu, hanya duduk diam di atas pohon Waru dekat rumahku, dgn perasaan tak menentu.
Suatu hari, cerita ibuku, ayahku yang seorang guru PNS pernah didatangi seseorang utk berobat. Beliau berharap ayahku bisa berbuat seperti kong Naamin biasa berbuat. Tapi ayahku segera menyatakan bahwa orang itu salah alamat, beliau tdk bisa. Tidak ada penurunan ilmu apa-apa, katanya.
Ya, kong Naamin atau Pak Na'amin, nama yg disebut pok Juju itu, beliau adalah kakekku. Ayah dari ayahku.
Aku ingin tersenyum saat mengenangnya, aku tdk ingin mengenangnya sbg dukun spt kata pok Juju, aku akan menceritakan kpd anak-anakku, bahwa kong Naamin, adalah kakek dan buyut yg seorang pejuang juga insyaAllah. Berjuang utk kembali ke jalan yang lurus yang kisahnya bisa diambil sebagai pelajaran. semoga Allah menerima taubatnya, menerima amalnya dan memberkahi keturunannya dgn kefaqihan dalam agama. Aamiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
