Halaman

Monday, August 26, 2013

puisi pahlawan

Tegar

Tegarlah laksana karang
kan kau hadapi tetes air atau gelombang
karena hatimu bagai bahtera
terombang ambing lautan badai

Jujurlah sebagai kesatria
kan kau sumpahi penipu dan pengkhianat
karena lidahmu seumpama pedang
menjagamu atau membelahmu

Lembutlah seperti sang kekasih
kan kau sayangi yang lemah lagi papa
karena tanganmu bak perisai
melindungi orang-orang teraniaya

kini, cerialah serupa kanak-kanak
kan kau mainkan kelak mimpi-mimpi hari ini
karena doaku sederas sungai
menghantarmu dewasa melintas masa



depok, 18 januari 2009
untuk Wafi yang lagi sering cemberut..

Meninjau Ulang Cara Kita Berfikir

Pernah dengan bangga, saya melihat skripsi saya, dapat nilai A, ditambah pula mendapat ucapan selamat dari dosen dan teman. Artinya apa? saya lulus menjadi orang yang telah mampu memahami dan menerapkan teknik berfikir ilmiah, sebuah teknik berfikir yang mengandalkan logika, dari premis-premis yang terukur kebenarannya untuk dianalisis dan sampai kepada ksimpulan hipotesis yang bisa dipertahankan secara ilmiah, sebuah standar yang penting dalam ukuran mutu lulusan seorang sarjana, setidaknya pada zaman saya waktu itu.

Namun saya perhatikan, sampai kini pun, anak-anak dari tingkatan sekolah yang paling dasar juga belajar, lebih  tepatnya diajarkan untuk menggunakan teknik berpikir secara ilmiah, mengandalakan logika dalam menyingkap berbagai data dan fakta dari ilmu yang diajarkan. Lulusan yang mendapat nilai bagus adalah mereka yang terampil menggunakan teknik berpikir logis sistematis dan ilmiah seperti ini. Kecerdasan berpikir ini menumpu pada daya kritis terhadap berbagai hal, pandai mencari kekurangan dan kesalahan terhadap suatu sitem atau ide dan terampil dalam menetapkan alasan dan faktor yang memiliki hubungan terkait hal-hal yang menjadi objek pmikiran.

Melihat hal tersebut, patut kiranya, kesuksesan yang luar biasa akhirnya justru banyak diraih mereka-mereka yang DO dari kampusnya, atau bahkan tidak mengenyam sekolah tinggi. Mengapa? karena kesuksesan itu lebih dekat kepada orang-orang yang lebih kreatif dalam mengelola pikirannya. Dunia ini berubah, dan memerlukan perubahan, dan yang memiliki persepsi tanpa batas terhadap perubahan,justru dapat menyambut setiap perubahan dengan kreatifitas yang mensukseskan hidupnya.

De Bono, seorang Psikolog mengemukakan bahwa mengutamakan berfikir secara vertikal, logik dan kritik seperti umumnya diajarkan dalam metode ilmiah, ibarat hanya mengutamakan satu helai bulu pada penggunaan sikat. Mengapa? karena ada teknik berfikir lain yang perlu dipakai. Kecerdasan bukan dilihat dari logisnya seseorang, tapi dari bagaimana kebijaksanaannya mendasari logikanya. Maka, banyak orang-orang yang pintar, tapi sulit diajak berpikir secara lateral, secara lebih menyeluruh, dan bijaksana., karena pikirannya terantuk pada cara yang itu-itu saja. Dengan kata lain, tidak kreatif dalam berfikir.

Umumnya segala ide yang muncul, menjadi tantangan bagi para pemikir jenis lulusan sekolah untuk dicari kekurangan-kekurangannya, ini kebiasaan pikiran analitik yang dipakai selama sekolah. Semntara, Debono menawarkan cara berfikir lateral, untuk lebih terbuka terhadap ide (walaupun secara sadar ide itu banyak kekurangan, bahkan tidak mungkin), agar dapat menemukan kebaikan atau hal positif yang bisa diambil darinya. Pikiran tidak hanya fokus pada satu cara, tapi pada banyak cara, banyak pilihan, pada tujuan dan manfaat dan pada antisipasi atas resiko. Tidak sekedar menganalisa untuk mematahkan suatu ide.

Panjang lebar sebenarnya tentang teknik berpikir Literal ini, bahkan saya pernah bertemu dengan salah seorang alumnus IIUM di Malaysia yang lulus master di program studi Teaching Thinking. Wuih, Mikir aja pake diajarin..

Ternyata,berfikir juga memrlukan ilmu. dan saya punya ide: bagaimana mengajarkan anak-anak saya cara berpikir, dengan membangun persepsi yang tepat. Saya masih memburu untuk dapat buku De Bono berikutnya, can't wait... hehe. Tenang, nanti disaripatikan dengan sudut pandang Islami., akan saya tulis diblog ini. For my self and my family..

Ide-ide lain juga numpuk, tapi ga punya waktu untuk mengalirkannya di sini.. alasan klise.
Tenang, tunggu tanggal mainnya...

Jom.. semangat!

Senin sore, 26 agt 2013
home sweet home