Halaman

Saturday, October 26, 2013

Suratku padamu ; 26 Juni 2012

Kau hadir saat sebagian dari jiwaku  merasa hampa. Dan kau telah mengisi ruang kehampaan itu, dengan semangat al Qur'an.

Kau bukan pria tampan seperti model majalah terkemuka, tapi aku adalah gadis kampung berwajah biasa, yang memandang penampilanmu dengan bangga. Dalam diammu ku tahu Kau berfikir sesuatu, membuatku selalu menunggu-nunggu kalimat yang jitu. Dalam senyummu ada matahari, membuatku tak berhenti mencari-cari.  Dalam tegak berdirimu tersimpan kekuatan, yang membuatku merasa aman. 

Kau begitu menawan dengan baju koko dan batik sederhana, yang hanya kusetrika bila dibutuhkan. Kau tampak nyaman dengan sandal dan sepatu biasa, yang selalu lupa kubersihkan.

Kau bukan pria kaya raya saat datang dulu. Tapi dakulah perempuan sederhana yang  melihat harta dalam jiwamu yang sangat berharga.  Aku telah menyaksikan dirimu yang selalu berusaha melengkapiku dengan ilmu dan kebijaksanaan. Menyindirku yang masih silau dengan apa yang akan pupus di tangan. Mengajakku merasakan kecanggungan atas kemewahan. Menimang hatiku dalam indahnya kesederhanaan. Namun sesekali menghiburku dnegan perayaan. Maka, beberapa rumah makan menjadi saksi kemurahanmu, beberapa bungkus cokelat telah mampir ke lidahku, beberapa pakaian indah telah meramaikan koleksi  bajuku, dan kini, laptop pink pilihanmu telah menyeronokkan hari-hariku.

Kau  bukan lelaki yang menguasai segala pekerjaan. Tetapi aku wanita lemah yang selalu menjadikanmu sebagai andalan. Soal dapur kotor berantakan, Kau biasa melakukan inspeksi dadakan, begitu ringan tangan untuk membersihkan sementara aku hanya tergopoh-gopoh menyaksikan.  Kau baik hati memuji diriku, bila ada pekerjaan yang tuntas kuselesaikan. Kau  memikirkan tangan lusuhku, sehingga ikut serta mencuci piring bila ada waktu. Kau ringankan pekerjaanku, mencegah cucian menumpuk, merapikan rumah dan menjaga anak-anak. Diriku merasa malu pada berantakan rumah kita, tapi Kau tak pernah menghina. Kau lakukan dalam diam apa yang bisa.

Kau bukan ayah yang hadir 24 jam. Tapi diriku adalah ibunda yang bisa menenangkan anak-anaknya sejak dalam kandungan,  bahwa ada sosok ayah yang siaga siang  malam. Satu persatu anak-anak kita hadir ke dunia, menyisakan tanggungjawab masa depan hingga ke akhirat sana, Kau lah yang membuatku selalu ingat, selalu bisa berucap pada mereka;
Wahai anak.. jadilah penghafal al Qur’an supaya kita selamat di sana, jadilah penghafal qur’an.. seperti Abi…

Bertahun-tahun kebersamaan kita… ku yakin selalu ingin mendampingimu hingga ke ujung dunia, membayangkan pergi umroh dan haji sekeluarga , atau duduk-duduk muraja’ah di kebun-kebun  di Sukabumi sana..

Bertengkar-tengkar sedikit, sudah biasa, tidak masalah, karena terlalu banyak yang bisa menyatukan segala yang berserakan.. jadi, maafkan lah diriku sejak sekarang.

Saat ditanya apa visi keluarga kita? Kau pun berseru: Syurga!. Itu sudah lebih dari segala dambaanku tentang arti berkeluarga.. InsyaAllah

Semoga kita bisa saling memperbaiki diri..

Selamat menyambut Ramadhan Abu Wafi Bina Yahya… dan Yasin

written a year ago, 
edited just now, on your birthday..