Dulu, banyak tipe orangtua yang merasa sekolah adalah nomor dua, yang penting anak berakhlak mulia, bisa mengaji dan dapat bekerja di ladang, atau mengurus dapur bagi perempuan. Ada juga orangtua dulu yang menyekolahkan anaknya dengan setinggi-tingginya penghargaan, sehingga tidak dipusingkan pula dengan aneka sistem persekolahan, yang penting muliakan para guru, cari berkahnya selalu. Atau ada pula orangtua seperti babehnya si doel, menyekolahkan anak untuk menuntut ilmu agar kelak jadi insinyur, sehingga bisa memperbaiki nasib keluarga dan kampung leluhur.
Untuk orangtua masa kini, sekolah untuk anak adalah bagian dari gaya hidup. Kini, banyak sekolah
menawarkan metode pembelajaran yang ekstrim alamiah hingga yang sangat atraktif dalam menampung berbagai potensi anak didiknya. Idenya sama, bahwa setiap anak berharga, setiap anak adalah bintang. Ada sekolah asrama, ada sekolah internasional, ada sekolah yang mengacu pada kebijaksaan penuh dalam menanggapi setiap potensi anak, multiple intellegences istilahnya. Sekolah-sekolah dengan proyek dan misi suci melahirkan anak-anak pemberani, kreatif dan cerdas tumbuh laksana cendawan di musim hujan. Sehingga cukup naif kalau kita tidak memandang hal ini dengan kacamata nihil bisnis. Ya, sekolah bisa begitu idealis, dan komersil sekaligus.
Pernah saya menyaksikan, sebuah keluarga muslim berpenghasilan pas-pasan, bekerja siang malam, untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Islam terpadu, yang mahalnya semakin terlalu. Atau demi alasan tertentu memasukkan anaknya ke pesantren bermutu, dengan cita-cita tinggi dan jitu, sang anak menjadi insan penghafal al qur'an yang sholeh, tekun dan berilmu luas tentu.
Jika kita tak berhasil menemukan (baca: mampu membayar) sekolah yang 'wah' dalam metode ini, maka kita akan bersiap memasuki kasta kedua pendidikan kita yang sudah mewarisi banyak kekurangan dari zaman dahulu kala. Sekolah ini mungkin diwakili oleh sekolah milik pemerintah yang tidak favorit dan madarasah-madarasah warisan tokoh agama di kampung yang tertatih-tatih mengejar akreditasi. Mungkin ada sekolah gratis, atau sekolah khusus orang miskin, serta sekolah untuk dhuafa yang digarap secara profesional, tapi jumlahnya sangat tidak sebanding dengan permintaan kita semua.
Saya, sebagai orangtua kelas menengah cenderung ke bawah, mencari-cari keputusan sendiri yang menenangkan.Syukurlah ada satu jurus yang cukup menghibur. Idenya adalah; bahwa sekolah pertama adalah bersama ibu, sekolah sesungguhnya adalah pengalaman belajar yang menyenangkan, dan sekolah dasar terbaik adalah sekolah yang mengajarkan aqidah dan akhlak sebagai dasar pendidikan.
Kita tidak punya banyak pilihan dengan keterbatasan finansial. Tapi memasuki masa usia persekolahan dasar, anak memerlukan pengalaman bersosialisasi, kita akui itu didapat di lembaga yang namanya sekolah. Maka, sekolahkanlah anak-anak, namun sekolah terbaik untuk anak kita tetap ada dalam genggaman kita, orangtuanya.
Sekolah sempurnanya adalah sekolah yang tidak sempurna namun menjadi pengalamn yang menambah kebaikan dan menopang perjalanan kehidupannya, sehingga sampai pada kesuksesan tidak semata dunia tapi juga akhirat, di sanalah segala kesempurnaan.
Ini maksudnya sebagai pemacu, bukan sebagai dalih bagi orangtua yang tidak sanggup mneyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah elit islami, boarding, terapadu dlsb. Ini pemacu mereka untuk tidak berhenti hanya pada pilihan yang sedang menjadi tren. Ini pemicu agar orangtua tetap terus mengambil peran, dan ini untuk semua kalangan. Karena sesungguhnya dasar-dasar pendidikan anak itu diperolehnya dari rumahnya, dalam dekap kasih sayang kedua orangtuanya.
Maka, bila sekolah anakku isinya guru yang masih suka mengomel, anak-anak yang sering jahil, PR yang menumpuk, sekolah yang waktunya hanya setengah hari yang kadang ber jam kosong, kawan-kawan yang berasal dari beragam kalangan, anak buruh hingga pedagang asongan, atau kurangnya hafalan al qur'an dan hadits di sekolah, kurangnya fasilitas untuk merangsang kreatifitas. ah.. Aku harus mengambil peran mengisi kekurangannya, mengajarinya membaca al qur'an dan menghafalkannya, memberitahunya bahwa guru yang mengomel mungkin sedang dalam masalah, mengajaknya tetap memuliakan orang-orang yang lebih tua dan berjasa, dan memahami bahwa setiap orang tidak sempurna, mengajari bahwa sikap hidup itu harus sederhana, memberinya kesempatan bersosialisasai dengan beragam kalangan, bermain-main gembira bersama dengan apa yang ada, menjadi dirinya sendiri di tengah keragaman itu. Ya.. mengajaknya menghadapi kehidupan sesungguhnya.
That's it. Itulah sekolah anakku yang sempurna, dengan izin Nya...insyaALlah
Kelak, anakku akan menemukan jalannya, dia yang mencarinya sendiri atau justru jalannya lah yang menemukannya, dalam sekolah-sekolah kehidupan, yang semoga dapat membentuknya menjadi satu di antara sekian pahlawan peradaban... dambaan insan.
Untuk orangtua masa kini, sekolah untuk anak adalah bagian dari gaya hidup. Kini, banyak sekolah
menawarkan metode pembelajaran yang ekstrim alamiah hingga yang sangat atraktif dalam menampung berbagai potensi anak didiknya. Idenya sama, bahwa setiap anak berharga, setiap anak adalah bintang. Ada sekolah asrama, ada sekolah internasional, ada sekolah yang mengacu pada kebijaksaan penuh dalam menanggapi setiap potensi anak, multiple intellegences istilahnya. Sekolah-sekolah dengan proyek dan misi suci melahirkan anak-anak pemberani, kreatif dan cerdas tumbuh laksana cendawan di musim hujan. Sehingga cukup naif kalau kita tidak memandang hal ini dengan kacamata nihil bisnis. Ya, sekolah bisa begitu idealis, dan komersil sekaligus.
Pernah saya menyaksikan, sebuah keluarga muslim berpenghasilan pas-pasan, bekerja siang malam, untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Islam terpadu, yang mahalnya semakin terlalu. Atau demi alasan tertentu memasukkan anaknya ke pesantren bermutu, dengan cita-cita tinggi dan jitu, sang anak menjadi insan penghafal al qur'an yang sholeh, tekun dan berilmu luas tentu.
Jika kita tak berhasil menemukan (baca: mampu membayar) sekolah yang 'wah' dalam metode ini, maka kita akan bersiap memasuki kasta kedua pendidikan kita yang sudah mewarisi banyak kekurangan dari zaman dahulu kala. Sekolah ini mungkin diwakili oleh sekolah milik pemerintah yang tidak favorit dan madarasah-madarasah warisan tokoh agama di kampung yang tertatih-tatih mengejar akreditasi. Mungkin ada sekolah gratis, atau sekolah khusus orang miskin, serta sekolah untuk dhuafa yang digarap secara profesional, tapi jumlahnya sangat tidak sebanding dengan permintaan kita semua.
Saya, sebagai orangtua kelas menengah cenderung ke bawah, mencari-cari keputusan sendiri yang menenangkan.Syukurlah ada satu jurus yang cukup menghibur. Idenya adalah; bahwa sekolah pertama adalah bersama ibu, sekolah sesungguhnya adalah pengalaman belajar yang menyenangkan, dan sekolah dasar terbaik adalah sekolah yang mengajarkan aqidah dan akhlak sebagai dasar pendidikan.
Kita tidak punya banyak pilihan dengan keterbatasan finansial. Tapi memasuki masa usia persekolahan dasar, anak memerlukan pengalaman bersosialisasi, kita akui itu didapat di lembaga yang namanya sekolah. Maka, sekolahkanlah anak-anak, namun sekolah terbaik untuk anak kita tetap ada dalam genggaman kita, orangtuanya.
Sekolah sempurnanya adalah sekolah yang tidak sempurna namun menjadi pengalamn yang menambah kebaikan dan menopang perjalanan kehidupannya, sehingga sampai pada kesuksesan tidak semata dunia tapi juga akhirat, di sanalah segala kesempurnaan.
Ini maksudnya sebagai pemacu, bukan sebagai dalih bagi orangtua yang tidak sanggup mneyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah elit islami, boarding, terapadu dlsb. Ini pemacu mereka untuk tidak berhenti hanya pada pilihan yang sedang menjadi tren. Ini pemicu agar orangtua tetap terus mengambil peran, dan ini untuk semua kalangan. Karena sesungguhnya dasar-dasar pendidikan anak itu diperolehnya dari rumahnya, dalam dekap kasih sayang kedua orangtuanya.
Maka, bila sekolah anakku isinya guru yang masih suka mengomel, anak-anak yang sering jahil, PR yang menumpuk, sekolah yang waktunya hanya setengah hari yang kadang ber jam kosong, kawan-kawan yang berasal dari beragam kalangan, anak buruh hingga pedagang asongan, atau kurangnya hafalan al qur'an dan hadits di sekolah, kurangnya fasilitas untuk merangsang kreatifitas. ah.. Aku harus mengambil peran mengisi kekurangannya, mengajarinya membaca al qur'an dan menghafalkannya, memberitahunya bahwa guru yang mengomel mungkin sedang dalam masalah, mengajaknya tetap memuliakan orang-orang yang lebih tua dan berjasa, dan memahami bahwa setiap orang tidak sempurna, mengajari bahwa sikap hidup itu harus sederhana, memberinya kesempatan bersosialisasai dengan beragam kalangan, bermain-main gembira bersama dengan apa yang ada, menjadi dirinya sendiri di tengah keragaman itu. Ya.. mengajaknya menghadapi kehidupan sesungguhnya.
That's it. Itulah sekolah anakku yang sempurna, dengan izin Nya...insyaALlah
Kelak, anakku akan menemukan jalannya, dia yang mencarinya sendiri atau justru jalannya lah yang menemukannya, dalam sekolah-sekolah kehidupan, yang semoga dapat membentuknya menjadi satu di antara sekian pahlawan peradaban... dambaan insan.