Halaman

Thursday, January 28, 2010

Melongok Pintu Huwaiza....

Entah bagaimana kami menemukan namanya dalam kamus, Huwaiza; artinya (kalau tidak salah) ada dua; pertama, simpanan yang baik, kedua, sesuatu yang memberi manfaat kepada oranglain. Karena berangkat dari kesan yang mirip dengan semangat kami, sepakatlah kami melecut gerbong ini dengan nama; Huwaiza.

Bagaimana ia berawal?
Sederhana saja. Sebuah ide dari seorang sahabat (nun jauh di negeri bersalju saat ini), Sebuah kesepakatan dan kekompakan dari sekelompok ibu-ibu di pinggiran kota yang rutin pengajian, sebuah usaha perlahan dan pasti dari beberapa pengurus yang masih lebih banyak meluangkan waktu untuk aktifitas lain (mengurus Rumah Tangganya).

Ia tumbuh karena kebutuhan.Sepintas ia menyajikan satu hidangan, uang. Hampir semua orang memang memiliki kebutuhan akan hal ini, namun kami punya gerbong yang tidak hanya mengangkut uang, karena harta kita mencakup kejiwaan manusia. Sesungguhnya ia tumbuh di atas kebutuhan masyarakat lemah yang perlu peluang dan kepercayaan, ia bangun di pondasi semangat memahamkan masyarakat atas ketidapahaman seputar pembiayaan syariah, dan disemai untuk menjadi salah satu solusi terhindar dari berbagai transaksi ribawi yang mengambil kesempatan di saat krisis. Dan dengan keadaran penuh dapat saya katakan bahwa, ia tetap hadir hingga hari ini karena kebutuhan kami (para pengurus) untuk beraktualisasi, sambil berusaha sekuat-kuatnya menyelamatkan titipan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Seringkali ruang rapat kami lebih mirip posyandu dari pada kantor, buku kerja kami penuh gambar bebek-bebekan coretan khas anak-anak, yang juga dapat ditemukan di dinding kantor yang baru dicat, tas kerjakami adalah tas balita, kami rapat lesehan, menggelar tikar dan terkadang sekaligus menggelar alas tidur bayi. Rapat kami kebnyakan membahas fund rising, marketing, dan manajemen operasional, tak ketinggalan juga diskusi pendidikan anak dan rumahtangga, itu tentu diluar selingan mendiamkan anak-anak menangis karena berbagai sebab. Kadangkala saat pelatihan 'in house training', kami bisa sambil menyuapi anak-anak ataupun menyusui, dan melerai anak bertengkar atau menerima telepon dari si 'Abang' atau si 'Teteh' dari rumah yang ingin ngobrol dengan umminya.
Kami sepakat untuk menyebut ini kinerja yang kurang profesional, tapi, ini maksimal sekali bagi kami.. ini yang bisa kami perbuat. Karena profesionalisme kami berarti bisa bertanggungjawab maksimal sebagai ibu juga.

Selepas dunia mengajar formal ditinggalkan, saya niatkan diri untuk di rumah full mulai anak pertama lahir. Tapi, sebagai perempuan kita memang perlu aktualisasi, selagi berada dalam ranah yang sesuai dan diridhoi suami dan tentu saja, yang bermanfaat. Pada saat yang sama, huwaiza sudah lahir lebih dulu dan sedang merangkak perlahan berusaha membentuk dirinya. Begitu juga sahabat-sahabat saya. Terkadang saya merasakan, kami membesarkan huawaiza seperti membesarkan anak. Alhamdulillah kami dikaruniai suami-suami yang luar biasa mendukung moril dan materiil. Tak peduli kadang pekerjaan kantor harus menginap di rumah kami masing-masing, sebagaimana pekerjaan rumah kerap terbawa-bawa ke kantor. Tak dianggap walau seseungguhnya pada awal-awalnya kami bekerja sebagai sukarelawan...

Di sini bukan ruang saya untuk berhitung soal aset atau pertumbuhan huwaiza sebagai lembaga keunagan mikro yang baru belajar, karena mungkin tak seberapa di banding lembaga serupa di tempat lain. Ini ruang saya untuk berbagi, bahwa sesuatu bila dilakukan terus menerus akan membuahkan hasil, ada yang cepat dan ada yang lambat. Ini ruang saya untuk berterimakasih kepada sahabat-sahabat dan pengelola Huwaiza atas berbagai ruang pembelajaran yang kita lalui bersama. Sekarang memang sudah saatnya Huwaiza memasuki dunia profesionalisme, dunia bergerak lebih cepat, karena ia hanya satu gerbong di antara ribuan gerbong yang tengah ditarik dengan kereta pemberdayaan berbasis ekonomi syariah, yang terus berpacu.

Namun kebesaran yang kami tuju nanti, bukan soal berapa banyak aset yang kita kelola. Karena soal kami bukan hanya berapa, tapi juga bagaimana. Huwaiza ingin menyadarkan pentingnya seseorang mnerapkan transasi syariah sebagaimana mereka menjalankan shalat. Dan salah satu yang sangat kami hargai adalah jika seseorang datang untuk melakukan aqad bersama huwaiza bukan karena mudah dan dekatnya kami di tengah mereka, tapi karena mereka mencintai syariah Allah tegak dalam setiap ruas kehidupan mereka, saat mereka mereka memilih Huwaiza karena Allah..

Huwaiza hanya salah satu pintu.. kami berhrap ia bukan sekedar pintu ekonomi semata, tapi menjadi pintu untuk menggapai hati manusia kepada Allah. Sukaduka tak dapat diceritakan semuanya. Sebagaimana mimpi-mimpi kami tak dapat tertuang semua lewat Huwaiza. Bersama Huwaiza, seseorang dari kami bisa tetap berangkat ke Malaysia atau Korea, tetap bisa aktif mengajar ngaji atau memimpin kegiatan PKK. Huwaiza bukan hanya sebentuk mimpi, dia bahkan telah mengiringi kami menggapai mimpi-mimpi lainnya.