Rasanya belum lama berlalu, saat abang W dimarahi emak dan bapak dalam balutan seragam SMP nya pada suatu pagi. Hari itu Abang W mendapat 'ceramah' istimewa sebelum berangkat sekolah yang membuat aku dan abang Z menangis menitikkan air mata, tapi abang W tetap tegar, hanya menunduk ke arah piring, sambil tak henti mengunyah nasi goreng, sarapan kita pagi itu..
Rasanya baru saja kudengarkan, teriakan nyaring emak mengomel dengan nyaring, hingga asbak kayu sebesar lengan sempat melayang dan hampir mengenai wajah abang W, nyaris tentu saja.. abang W baik-baik saja, hanya menyisakan asbak yang tak lagi utuh. Juga teriakan bapak yang marah bukan kepalang, mendengar bacaan Qur'an bang W waktu itu, yang ternyata belum seperti harapan.
Rasanya masih terdengar suara-suara itu, ketika bang W bercerita tentang filem-filem favoritnya, bercakap-cakap dengan kawan sepermainannya di sisi rumah kita, cerita tentang sekolah dan guru-guru yang galak, atau berbagai hal baru yang menarik bagi remaja tanggung seperti abang W. Dan emak selalu inspeksi, adakah rokok atau barang aneh yang tersembunyi di perlengkapan bang W. Bang W tak pernah lolos dari Emak. Walaupun bapak perokok waktu itu, Bang W tidak merokok.
Rumah kita berpindah-pindah, tapi bang W tak pernah kehabisan kawan main, bang W bisa berkeliling-keliling dengan sepeda BMX yang dibeli bapak, satu sepeda untuk kita bertiga. Bang W menjelajah desa-desa, mengenal banyak kawan sekampung dan hafal jalan-jalan. Bang W akan menempuh perjalanan jauh untuk menonton filem kesukaannya pada suatu malam, untuk pada pagi harinya dengan fasih menceritakan kepada kami bagaimana serunya filem itu. "Wong fei Hung," katanya suatu saat; "Kung fu nya tak terkalahkan..." dan kami sangat terpesona.
Bang W tumbuh sebagai pribadi cerdas yang menarik, abang W disukai banyak orang. Bang W berhati baik. Bang W suka menjaga penampilan. Bagiku sejak kecil, tulisan tangan bang W adalah tulisan tangan terindah seorang lelaki yang pernah aku jumpai. Bang W punya banyak keahlian, hanya kurang disiplin mengelola dirinya..
Sementara Emak adalah pribadi shalihat yang penuh kekecewaan dalam hidupnya, yang sekuat tenaga menjaga keluarga kami, agar tetap aman tentram dan stabil bersama bapak yang emosionil.. ya, emak dan bapak, dua orang emosionil dalam hidupku... dan bang W, pribadi tercuek di keluarga yang selalu biasa memulai sesuatu yang baru..
Bang W lulus SMA, ikut Seleksi masuk PTN tidak diterima. Karena semua dilakukan antara yakin dan tidak. Bang W bukan tak punya cita-cita, tapi hanya disambi, diraih sekenanya.. jadilah bang W lulusan SMA yang menganggur, mengisi hari dengan kecerdasan yang tak terarahkan...aktif tapi tidak menghasilkan, pergi dari rumah tapi tidak membawa hasil untuk makan. Serabutan...
Tapi, hanya Bang W yang waktu sedang jadi pengangguran, tetap tanpa bertanya apa-apa mau memberikan kepadaku uang, untuk sekedar membeli keperluan anak gadis baru gede yang susah bercerita terus terang. Hanya bang W yang gampang membagi rezekinya, dan dia lupa bahwa ia punya banyak hal untuk diselesaikan. Dan begitu juga kalau punya hutang, bang W kerap lupa atau menggampangkan urusan.
Bang W lah yang membuka pintu-pintu keberkahan di rumah, saat suatu saat bang W menjadi gerbang kami semua mengenal Islam yang sebenarnya.. Menambah khazanah isstimewa dalam pikiran kami, bukan hanya dari kacamata muhammadiyah bapak kami, atau dari sudut pandang pesantren NU emak kami. Bang W membelikan ku majalah Islami, mendorong abang Z ikut Rohis dan mengantarkanku ke tempat murabbiku untuk mengaji.. Bang W adalah guru kami.
Bang W adalah sosok pemberani, yang memiliki keputusan-keputusan yang dia ambil sendiri, yang bisa mempengaruhi emak dan bapak juga kami sekeluarga. Emak yang galak selalu dapat memahami abang W ku, bapak yang garang, dapat menerima pendapat abang W ku. Begitulah bang W tumbuh, hingga menikah dan membina keluarga. Bang W sesungguhnya pribadi yang bijaksana.
Abang W selalu hadir di saat-saat penting hidupku. Kisah hidupnya hingga kini adalah bagian dari kisah hidupku yang begitu berarti. Dialah salah satu pahlawan kebanggaanku. Anak-anaknya adalah keponakan yang kurindu, yang ingin kudekap erat dan kusampaikan kalimat kepada mereka: Taatilah ayahmu, banggalah padanya, karena sedikitpun Ia tidak ingin menyia-nyiakan kalian... karena dalam hatinya tersimpan sejuta harapan untuk kalian."
Kebanggaan bagi kami atas bang W bukan kesuksesan hidupnya, bukan harta dan kedudukannya di sisi manusia. Kami menyayangi bang W apa adanya beliau, yang selalu ramah, yang merekatkan, yang melindungi, yang bijaksana, yang menjadi abang tertua. Bang W sudah berusaha menjadi pribadi yang mandiri,yang bisa dihargai, lebih dari itu, bang W adalah sosok murabbi.. dan ini selalu berarti besar. Kadang aku menyaksikannya bersembunyi dalam kecuekannya atau kesibukannya.. padahal Ia bisa tampil apa adanya, dengan penuh tanggung jawab.. sebagaimana sosok sang murabbi.. sebagaimana sosok guru bagi murid-muridnya.
Begitulah, Bang W selalu istimewa bagiku, karena ia bertanggungjawab, bukan karena kemasan-kemasan lainnya. Karena, begitu Ia bisa menggamblangkan segala urusan, seperti layaknya kami melihat halilintar yang terang di langit kelam kala hujan.. mungkin tidak indah, mungkin diringi air tercurah, mungkin tidak nyaman, tapi selalu bisa memberi kesegaran sesudahnya... memberi kelegaan.
Saat kini, entah kenapa emak kerap menitikkan air mata bila menyebut bang W, dan juga bang W yang merasa tidak nyaman saat kutanyakan kabarnya terkait emak kami. Meski aku bisa menyimpulkan dengan dalil dan nash-nash, rasanya itu begitu naïf untuk seorang bang W yang juga guru kami. Maka Aku selalu ingin menyimpulkan dengan caraku, seperti aku menyimpulkan cerita-cerita hidupku sendiri. Ya, tentang bagaimana rasanya menjadi emak dan memiliki seorang putra.
Emak selalu bilang, bang W udah jarang keliatan akhir-akhir ini. Sibukkah? banyak proyekkah? sudah sukseskah? marahkah?. Itulah pertanyaan-pertanyaan tersirat sang emak yang bisa kupahami. Tidak sedikitpun emak ingin memarahi, atau menagih janji yang memang tidak pernah ada perjanjian... Emak merindukan putranya ini.. abang W ku, Halilintar keluargaku...
Andai bang W tahu, betapa sering emak bercerita tentang kisah nya di masa lalu, juga saat bang W kecil, tentang betapa istimewanya bang W. Bang W yang dikira orang di kampung sudah meninggal, bang W yang paling jago main bola, bang W yang begini dan begitu..
Begitulah kerap aku membandingkan rasa seperti kepada Wafi putraku, bila pergi main dan tak ada kabar, rasanya ingin marah, tapi yang lebih berat adalah rasa ingin berjumpanya, semuanya karena rasa sayang yang tak terkira... dan Wafi tetap selalu istimewa bagaimanapun dia. Karena dia anakku.
Saat wafi kini 9 tahun saja, selalu ada kerinduan dalam hatiku menimang-nimangnya seperti dia masih bayi dulu, menciuminya lebih banyak, lebih mesra, mengulang segala peristiwa yang terjadi dan menatanya menjadi lebih baik dari apa yang bisa kukenang kini. Namun kusadari, kita tidak bisa terus menyesali, hanya memperbaiki yang bisa diperbaiki...
Apalagi emak, yang semakin menua berdua bapak di rumah di pojok sana, apa yang terbayang dalam jenak-jenak nostalgianya? Pasti kerinduan pada anak-anaknya...
Kini saat ku jauh dari keluargaku.. aku selalu penuh harap akan abang W ku... menitipkan yang ada di sana agar baik-baik saja adanya, mesra dan indah.. sebelum kita terus menua, sebelum Allah memanggil kita satu demi satu...
Aku memeluk Wafiku, dan membayangkan emak memeluk bang W...
Rasanya, seperti ada halilintar kecil diringi gerimis...
Kuala Lumpur, 1 Juni 2014
#episode Adik
😢😢😢sedih jadi ingat emak
ReplyDelete