Halaman

Monday, September 8, 2014

MIMPI KITA DI NEGERI JIRAN



Kita mungkin pernah bermimpi menjelajah dunia, menyaksikan berbagai fenomena dan warisan sejarah serta budaya, di negeri-negeri yang jauh, tempat-tempat yang populer dan menawan, yang pernah kita lihat gambarnya di buku-buku sejarah atau majalah pariwisata. Maka, memikirkannya menyadarkan kita bahwa Malaysia mungkin bukan sebagai destinasi akhir, pastinya. Dia bukan mimpi besar kita. Sekedar bisa berpose dgn latar menara kembar, atau menyaksikan berbagai situs asri nan terawat yang ada di sini, tidaklah berhasil mewakili hasrat kita sesungguhnya berada di sini. Ini tetap sekedar negeri jiran, negeri tetangga. Malaysia seakan adalah satu langkah, untuk suatu saat kita bisa keluar lebih jauh ke berbagai belahan bumi lain, atau, bisa juga sebagai satu langkah, untuk kembali, sebelum kita pulang ke tanah air. Ia adalah sekedar batu loncatan.

Namun, siapa sangka dunia diaspora yang sangat ramai di Malaysia ini menyajikan peluang yang tidak disangka. Ibarat menyemai mimpi, yang bisa kita tuai suatu hari nanti. Tapi tentu, dengan persepsi yang harus kita sepahami.

Ketika melihat banyak sekolah di sini kita bisa mengambil pelajaran dan membangun sekolah impian kita suatu hari. Sekolah yang secara fasilitas bisa memadai seperti di sini, tapi SDM nya lebih ramah seperti di tanah air. Mendidik anak dengan berbagai bahasa serta standar kognitif yang mumpuni, tapi tetap menghargai bakat dan perbedaan. Mengambil baik-baiknya dari dua keadaan. Di sini kita sedang merancang, sekolah impian kita, sekolah untuk anak-anak bangsa ke depan, anak-anak kita. Membayangkan sebuah bangunan sekolah dan manajemen seindah di KL, dengan latar pegunungan di daerah Sukabumi.

Ketika menyaksikan berbagai derita TKI. Menyaksikan banyaknya pekerja berusia produktif, gadis gadis remaja baru lulus SMA bekerja dengan lelah di pabrik-pabrik milik kapistalis yang berdiri angkuh di tengah kota, atau banyaknya pemuda-pemuda yang menghabiskan masa di perkebunan sawit di tepi negeri, atau ribuan kuli bangunan yang menahan rindu pulang karena gajinya belum dibagikan, atau atau atau... yang sungguh menyedihkan..
Maka, kita membangun komunitas yang peduli. Lebih tepatnya, orang-orang sebelum kita telah merintis komunitas dakwah yang peduli sepenuh hati. Kita hanya akan melanjutkannya agar ia mencapai tujuannya. Seperti Fokma, seperti forkommi.

Kita bisa mengangkat harkat dan martabat kita agar tidak lagi diinjak semena-mena. Itulah yang ingin kita tumbuhkan dibenak mereka, para TKI yang merundung sedih dan berendah diri, dimarah-marahi HR atau disumpah serapahi setiap hari. Kita akan membangun wawasan mereka agar lebih peka dan mengerti, bahwa apa yang tengah dijalani, harus membawa kepada jalan-jalan baru yang lebih baik, agar mereka merancang, hingga kelak bisa mandiri dan berkiprah ketika kembali ke tanah air suatu hari.
Kita, sesungguhnya tengah membuat kerja besar, agar sebuah bangsa menghargai bangsa lainnya. Semua bangunan, infrastruktur dan segala keindahan dan kerapihan ini telah menggunakan tangan-tangan masyarakat Indonesia, yang mereka seakan-akan hampir dilupakan,bahkan tiada terimakasih.
Kita bisa menyebar dalam organisasi ini, ke segala pelosok negeri jiran ini, agar ruh bangsa kita yang besar, menjadi lebih terhormat di sini. Kita, akan membangun cabang-cabang organisasi yang mencerdaskan dan menceriakan, yang mengikat dan memuliakan, yang menegaskan setiap anggotanya bahwa kita adalah satu bangsa yang berdikari, dimulai dari setiap pribadi.
dan saksikan, bahwa dalam beberapa dekade lagi, biar kita membangun negeri kita sendiri, dari tanagn-tangan pekerja ini, karena telah kita yakinkan, bahwa mereka tak perlu kembali ke sini.

Mimpi atas fokma, adalah mimpi kita tentang harkat dan martabat muslimah Indonesia di Malaysia. Maka, Ia adalah mimpi yang sangat indah.
Suatu hari, fokma menyebar di setiap penjuru malaysia sebagai sumber amal shalih dan inspirasi tiasa henti. Bahwa muslimah dengan keimanan dan harga dirinya, terlalu mahal untuk berada di sini sebagai pekerja kelas tiga. Bahwa kita bisa bangkit seiring bangkitnya negeri kita tercinta. Bahwa Fokma, adalah sebentuk sumbangsih bagi bangsa... sebentuk sumbnagsih bagi ummat.. sebentuk amal shalih yang dihadirkan bagi sang pencipta, dan sebentuk mimpi yang memenuhi ruang gerak kami saat ini, sebelum kembali ke bumi pertiwi, bumi Allah yang diberkahi.


#episode pengurus fokma

Saturday, July 12, 2014

Bersinar Mutiara... (Surat untuk Afifah)



Apakabar Afifah...?

Di ujung malam yang sejuk ini, amah teringat sebuah janji. Janji pada diri sendiri. Janji untuk selalu mengatakan kepada semua yang amah kasihi, agar tidak pernah menyerah atas apapun jua..
Seperti rembulan purnama malam Ramadhan ini yang begitu indah, walau awan sesekali menutupinya..
Laksana  gemintang yang tetap  bercahaya kini  walau nampak kurang terangnya terhalang purnama..
Sebagaimana jangkrik di tepi rumah yang tetap ramai bernyanyi, walau deru lalu lintas malam nyaring terdengar di tengah kota.

Apakabar Afifah..?

Dulu, waktu seumuranmu, sering amahmu ini berpikir, betapa hidup sempurna itu ada pada wajah yang menawan, nilai yang baik di sekolah dan persahabatan yang ramah.. tentu juga, keuangan yang berlimpah..
Tapi perjalanan hidup amah yang sempurna justeru terasa saat amah tidak merasakan semua kenikmatan seperti yang amah bayangkan itu...
Begini ceritanya..
Saat amahmu ini kecil, tak ada seorangpun yang mengajarkan bagaimana harusnya amah bercita-cita.. maka segala pikiran amah hanya dipenuhi oleh khayalan akan kehidupan yang bukan kehidupan. Sehingga begitu amahmu ini kembali kepada kenyataan, rasanya sedih dan tidak percaya diri. Rasanya hidup ini begitu membosankan. Rasanya mentok pada kalimat, "udah jalanin aja.."
Tidak seperti anak-anak jaman sekarang yang pikirannya terbuka dengan banyak motivasi yang postif, amah terkukung dengan kalimat, "ah segini juga udah syukur..."

Dulu, saat SMP kelas tiga belum dapat pengumuman NEM, salah seorang guru memberikan kertas kepada kami para murid di SMPM, kami disuruh menulis sekolah tujuan selepas SMP nanti.
Amahmu ini tangannya kelu, mau nulis SMA Negeri 1 Depok, malu, mau nulis SMA swasta, ga tau.. bener bener ga punya rencana.. padahal udah SMP kelas 3.. ckckck..

Setelah pengumuman NEM keluar, amah pikir itu nem ajaib sedunia, paling tinggi sekampung, akhirnya masuk ke SMA 1 depok. Begitu ketemu temen pertama, kenalan, saling menyebutkan nem, langsunglah amahmu sadar, nem amah bukan apa-apa...nem si dia rupanya 3 angka di atas amah, letoy dah,  dan mulailah amah ketakutan.. "duhai, mampukah aku sekolah di sini?"

Ini serius.. amah sempat memohon dalam hati, agar jangan jadi siswa terkenal di SMA 1, bakalan banyak beban nanti. Maka di kelas 1, ga pernah pingin dapat rangking satu, ga pingin aktif organisasi, kecuali rohis, ga pingin banyak bersuara, karena takut terkenal, ya takut terkenal... bener-bener aneh waktu itu.

Semua yang amah jalani soal nilai dan perasaan, sampai amah masuk ke jenjang kuliah mengajarkan amah satu hal.. bahwa, Nilai-nilai amah boleh jadi lumayan, tapi tidak pernah berhasil membawa amahmu menjadi pribadi yang kuat. Tidak.. sama sekali tidak,
Paling jelas waktu kuliah, amah menyaksikan sendiri, bahwa kecerdasan sesungguhnya ada pada keterampilan mengelola emosi, dan kesiapan menghadapi masalah.. itu dia!

Afifah tahu?
Dulu pernah amahmu ini memilih menggendongmu setengah harian sambil nunggu ummi mu kembali mengajar, di rumah nenek kakek.. dan untuk itu, amah meninggalkan satu mata kuliah, ya, bolos satu mata kuliah yang menyeramkan.. hehe..
sebenarnya mungkin  amah waktu itu sedang sembunyi sambil menggendongmu, dari beban kuliah yang menggunung, tugas yang belum dikerjakan dan dosen yang galaknya ga ketulungan..
padahal pada saat yang sama, kawan-kawan amah terus maju dan bergerak, melakukan apa yang perlu dilakukan.. dan itu lebih baik.

Syukurnya, Allah selalu memberi kesempatan..
Amah merasakan saat-saat terakhir kuliah sebagai saat-saat paling menyenangkan dalam proses menuntut ilmu. Amahmu ini punya gairah lebih.. adapa apakah? kenapa?
Skripsi..
Skripsi ini titik balik amah menemukan tekad untuk menikmati proses belajar dan berkarya. Menikmati dan menghadapi momen-momen berurusan dengan beragam orang, yang ramah dan yang garang, amah mulai menemukan cara-cara yang nyaman untuk amahmu lalui..
bayangkan, dari SD, SMP, SMA ngapain aja? Well, ternyata amah berasa benar-benar belajar pas akhir kuliah.. hehe.. what a shame, tapi sangat bersyukur.

Kini, amah sering bilang ke Wafi.. ga apa-apa nilainya ga bagus, yang penting ngajinya ok..
Juga ke Bina, ga papa nilainya kurang, kan ngajinya semangat...
Amah juga ceritakan ke mereka, bahwa sekolah sempurna itu bukan di sekolah.. sekolah itu ada di kehidupan..
Seperti amah yang harus nunggu sampai akhir masa kuliah dulu baru bisa menikmati proses menuntut ilmu, demikian pula wafi, bina, afifah dan semua cucu-cucu kakek. Nikmati prosesnya...

Sekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan, tapi yang membuat seseorang berilmu, bukan hanya sekolahnya dimana.. karena sekolah yang benar-benar mengajari kita adalah sekolah kehidupan kita sendiri. Di rumah, di lingkungan dan dimana jua...

Seperti Imam Syafi'i yang lahir di Gaza, lalu ke Mekkah lalu ke Baghdad lalu ke Mesir.. Mutiara adalah mutiara.. dimanapun dia berada.

Saat Allah memilih sesuatu jalan yang tidak kita harapkan, kita harus yakin bahwa itu adalah jalan yang lebih baik.. jalani, lalu saksikanlah keajaiban dalam hidupmu.. Ya, Allah lebih mengetahui mana yang membuat mutiara lebih bersinar..
Kalau kita ridha pada ketetapanNya, betapa Ia yang maha rahman pasti akan menambah nikmat Nya kepada kita..

Kita boleh sedih dan kecewa, tapi kita tidak akan menyerah...
Cita-cita kita tidak hanya lewat satu jalan saja, ada banyak jalan yang lebih baik yang belum tersingkap..
Salah satu pelajaran dari sekolah kehidupan adalah... selalu bersemangat dengan hal-hal baru.. karena pasti ada banyak kebaikan di situ. Berupa kawan baru, pelajaran baru, keterampilan baru, ilmu baru, dan banyak hal..

Afifah.. bersemangatlah...
jangan biarkan apapun jua membuat kita lemah..
Kita punya rencana, tapi setelah itu kita harus belajar menyesuaikan diri dengan rencana Allah yang lebih baik...

Hidup Sedih dan susah itu biasa
Untuk tidak menyerah, itu luar biasa...

Selamat bersinar wahai mutiara, dimanapun dirimu berada...

KL, 13 Juli 2014

Amah Ilmi

#episode amah
 

Monday, June 2, 2014

Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda


“Biar anak orang lain pandai matematika, biar anak orang juara lomba pidato, biar anak-anak orang juara olahraga, tapi bapak mau , kalau anak yang pandai ngaji itu yang anak bapak..” demikian ujar seorang bapak dalam kisah sukses seorang anak yang pernah saya baca.

“Nak, kakak-kakakmu sudah ada yang jadi insinyur, sudah ada yang jadi dokter, tinggal kamu masih sekolah, Ibu pingin punya anak akhirat satu orang, Ibu pingin kamu jadi anak akhirat ibu… “Begitu seorang wanita doctor lulusan al Azhar pernah bercerita tentang harapan ibunya kepadanya.

Ah, ajaibnya harapan-harapan ini…

Saturday, May 31, 2014

The Thunder in our Heart...



Rasanya belum lama berlalu, saat abang W dimarahi emak dan bapak dalam balutan seragam SMP nya pada suatu pagi. Hari itu Abang W mendapat 'ceramah' istimewa sebelum berangkat sekolah yang membuat aku dan abang Z menangis menitikkan air mata, tapi abang W tetap tegar, hanya menunduk ke arah piring, sambil tak henti  mengunyah nasi goreng, sarapan kita pagi itu..

Rasanya baru saja kudengarkan, teriakan nyaring emak mengomel dengan nyaring, hingga asbak kayu sebesar lengan sempat melayang dan hampir mengenai wajah abang W, nyaris tentu saja.. abang W baik-baik saja, hanya menyisakan asbak yang tak lagi utuh. Juga teriakan bapak yang marah bukan kepalang, mendengar bacaan Qur'an bang W waktu itu, yang ternyata belum seperti harapan.

Rasanya masih terdengar suara-suara itu,