Hiasan dan Pemaknaan
Syari’atnya, berqurban adalah menyembelih hewan qurban yang
memenuhi syarat-syarat sebagaimana tertuang dalam al qur’an dan hadits
rasulullah saw.
"Dan bagi
tiap-tiap umat telah Kami syari'atkan penyembelihan Qurban supaya mereka
menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada
mereka, maka Rabb-MU adalah Allah yang satu karena itu berserah dirilah kamu
kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk
patuh." (Qs. Al-Hajj (22): 34)
Dari Aisyah ra
sesungguhnya Nabi Saw bersabda: "Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari
raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan
(maksudnya : menyembelih hewan qurban)" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Maka, bila datang waktunya, hal itulah yang kita persiapkan,
yakni berqurban secara materi, menyembelih hewan qurban.
Soal pemaknaan, hikmah pengorbanan, filosofi atau apapun
namanya dalam menafsirkan qurban, itu adalah sebagai rangkaian hiasan yang
menjadikan ibadah terasa lebih indah dan berarti, itu saja.
Berkomitmen, bukan
berangan-angan
Kita sudah mendengar, seorang pemulung dan tukang becak bisa
menabung untuk berqurban. Yang lain lagi menabung untuk berhaji. Kalau sekedar
berangan-angan, semua orang bisa, tapi kalau menjalankan perbuatan karena hasil
keputusannya, memerlukan komitmen yang nyata.
Pertanyaannya kini bukanlah; mampu atau tidak?,
pertanyaannya adalah; mau atau tidak?
Yang memiliki komitmen untuk berkorban dijalan Nya akan
membuktikan pengorbanannya dengan jalan masing-masing, firman Allah swt: " Barang siapa yang berjihad di jalan kami , akan benar-benar kami tunjukkan kepadanya,
jalan-jalan kami” (al Ankabut:69)
Selalu ada jalan bagi mereka yang berkemauan dan
berkomitmen.
Begitu memukau.
Pembuktian Iman
Apakah kita mengaku beriman, lalu tidak akan diuji?.
Iman melahirkan cinta kepada Allah. Kecintaan seseorang
dapat diukur dari sebesar apa pengorbanan yang bisa diberikan kepada apa yang
dicintainya. Cinta sejatimu akan menuntutmu sampai kepada apa yang terpenting
dalam hidupmu, yaitu kehidupanmu sendiri.
Semakin tinggi cintamu, semakin besar pengorbananmu. Maka
membuktikan cinta dan keimanan dengan sebaik-baik bentuk qurban adalah satu
hal, dan berqurban alakadarnya adalah hal lainnya. Disini, materi berbanding
lurus dengan usaha kita dalam membuktikan cinta. Yang semakin baik bentuk
qurbannya, bisa menjelaskan lebih nyata akan bukti cintanya. Itulah, maka
jangan ragu mencari bentuk terbaik untuk pengorbananmu, memilih kambing
terbaik, atau sapi terbagus misalnya.
Sebagaimana Allah lalu menukar Ismail dengan seekor qibas.
Demikian, maka beragam teori kita tentang pengorbanan kita pun, pada akhirnya
perlu kita buktikan dengan menyembelih
qurban, hewan yang jelas wujudnya.
Sungguh Menarik.
Menikmati Pengorbanan
Dan siapakah yang
lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada
Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti
agama Ibrahim yang lurus?... (An-Nisaa: 125)
Kunci kenikmatan dalam berqurban adalah dengan keikhlasan.
Amal yang paling baik adalah amal yang ikhlas dan sesuai
tuntunan, demikian Fudhail bin Iyadh pernah berkata-kata. Amal seperti ini,
akan memberikan hasil optimal. Amal seperti ini membekaskan kebaikan pada diri
sang pelaku. Berapa banyak orang beramal namun tidak membentuk karakternya dan
tidak mencegahnya dari tindakan maksiat, yang dapat diperkirakan bahwa amalnya
tidak ikhlas. Kelanjutan ayat diatas adalah sebagai berikut:
... Dan Allah
mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.. (Annisa:125)
Menjadi kesayangan Allah adalah karunia dan nikmat tak terkira.
Sangat mempesona.
Berkorban atau
terkorban
Mari sedikit mengolah kata qurban menjadi lebih dekat dalam
kehidupan sehari-hari, korban.
Perbedaan aktifitas sehari-hari kita biasanya berawal dari niat
dan motivasi. Berkorban; karena membuktikan cinta secara sengaja. Berkorban
lahir bersama dengan kesadaran kita bahwa kita akan meraih keutamaan dengannya,
tidak merasa rugi dan sia-sia sesudahnya.
Sementara dalam bahasa penulis, terkorban; terjadi karena
tidak sengaja dan tidak sadar. Karena mengorbankan diri, harta, waktu bukan
demi cinta sejati, kita dikelabui, tidak memberi faedah. Atau terkorban artinya, kita berkorban atas
sesuatu yang tidak layak untuk
pengorbanan itu. Jadi kita adalah korbannya dalam makna sesungguhnya.
Jika kita merasa kehilangan waktu banyak untuk kesibukan di
facebok atau menonton hiburan, jika kita merasa lelah dalam mengelola suatu
urusan dan merasa tidak ada manfaatnya, jika kita merasa rugi saat selesainya
pekerjaan itu tidak ada penghargaan atas kerjakeras kita. Hati-hati, mungkin
kita sedang terkorbankan, bukan berkorban. Karena sejatinya berkorban itu
indah, tanpa keluh kesah.
Sesungguhnya
berkorban itu bermuara pada apa yang
membawa manfaat kehidupan, bukan untuk kesia-siaan. Maka, jika kita sedang
merasa terkorban, ubahlah perbuatan kita itu. Cari kesibukan lain yang
bermanfaat. Atau, jika tidak bisa, ubahlah motivasi dari perbuatan itu, agar
memberi mashlahat, agar layak kita ajukan sebagai pengorbanan, bukti cinta kita
kepada Rabb kita.
Marilah selalu mendayagunakan segala potensi, akal pikiran
dan juga fisik kita, karena ibadah kita kepada Allah tidak hanya mengacu soal
perasaan.
Wallahu a’lam
Ummu wafi
KL, Oktober 2013