Halaman

Wednesday, October 23, 2013

Bukan Sekedar ‘Qurban’ Perasaan


Hiasan dan Pemaknaan
Syari’atnya, berqurban adalah menyembelih hewan qurban yang memenuhi syarat-syarat sebagaimana tertuang dalam al qur’an dan hadits rasulullah saw.
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari'atkan penyembelihan Qurban supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Rabb-MU adalah Allah yang satu karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh." (Qs. Al-Hajj (22): 34)
Dari Aisyah ra sesungguhnya Nabi Saw bersabda: "Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan qurban)" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Maka, bila datang waktunya, hal itulah yang kita persiapkan, yakni berqurban secara materi, menyembelih hewan qurban.
Soal pemaknaan, hikmah pengorbanan, filosofi atau apapun namanya dalam menafsirkan qurban, itu adalah sebagai rangkaian hiasan yang menjadikan ibadah terasa lebih indah dan berarti, itu saja.
Begitu sederhana.


Berkomitmen, bukan berangan-angan
Kita sudah mendengar, seorang pemulung dan tukang becak bisa menabung untuk berqurban. Yang lain lagi menabung untuk berhaji. Kalau sekedar berangan-angan, semua orang bisa, tapi kalau menjalankan perbuatan karena hasil keputusannya, memerlukan komitmen yang nyata.
Pertanyaannya kini bukanlah; mampu atau tidak?, pertanyaannya adalah; mau atau tidak?
Yang memiliki komitmen untuk berkorban dijalan Nya akan membuktikan pengorbanannya dengan jalan masing-masing, firman Allah swt: " Barang siapa yang berjihad di jalan kami , akan benar-benar kami tunjukkan kepadanya, jalan-jalan kami” (al Ankabut:69)
Selalu ada jalan bagi mereka yang berkemauan dan berkomitmen.
Begitu memukau.

Pembuktian Iman
Apakah kita mengaku beriman, lalu tidak akan diuji?.
Iman melahirkan cinta kepada Allah. Kecintaan seseorang dapat diukur dari sebesar apa pengorbanan yang bisa diberikan kepada apa yang dicintainya. Cinta sejatimu akan menuntutmu sampai kepada apa yang terpenting dalam hidupmu, yaitu kehidupanmu sendiri.
Semakin tinggi cintamu, semakin besar pengorbananmu. Maka membuktikan cinta dan keimanan dengan sebaik-baik bentuk qurban adalah satu hal, dan berqurban alakadarnya adalah hal lainnya. Disini, materi berbanding lurus dengan usaha kita dalam membuktikan cinta. Yang semakin baik bentuk qurbannya, bisa menjelaskan lebih nyata akan bukti cintanya. Itulah, maka jangan ragu mencari bentuk terbaik untuk pengorbananmu, memilih kambing terbaik, atau sapi terbagus misalnya.
Sebagaimana Allah lalu menukar Ismail dengan seekor qibas. Demikian, maka beragam teori kita tentang pengorbanan kita pun, pada akhirnya perlu  kita buktikan dengan menyembelih qurban, hewan yang jelas wujudnya.
Sungguh Menarik.

Menikmati Pengorbanan
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?... (An-Nisaa: 125)  
Kunci kenikmatan dalam berqurban adalah dengan keikhlasan.
Amal yang paling baik adalah amal yang ikhlas dan sesuai tuntunan, demikian Fudhail bin Iyadh pernah berkata-kata. Amal seperti ini, akan memberikan hasil optimal. Amal seperti ini membekaskan kebaikan pada diri sang pelaku. Berapa banyak orang beramal namun tidak membentuk karakternya dan tidak mencegahnya dari tindakan maksiat, yang dapat diperkirakan bahwa amalnya tidak ikhlas. Kelanjutan ayat diatas adalah sebagai berikut:
... Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.. (Annisa:125)
Menjadi kesayangan Allah adalah karunia dan nikmat tak terkira.
Sangat mempesona.

Berkorban atau terkorban
Mari sedikit mengolah kata qurban menjadi lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari, korban.
Perbedaan aktifitas sehari-hari kita biasanya berawal dari niat dan motivasi. Berkorban; karena membuktikan cinta secara sengaja. Berkorban lahir bersama dengan kesadaran kita bahwa kita akan meraih keutamaan dengannya, tidak merasa rugi dan sia-sia sesudahnya.
Sementara dalam bahasa penulis, terkorban; terjadi karena tidak sengaja dan tidak sadar. Karena mengorbankan diri, harta, waktu bukan demi cinta sejati, kita dikelabui, tidak memberi faedah.  Atau terkorban artinya, kita berkorban atas sesuatu yang  tidak layak untuk pengorbanan itu. Jadi kita adalah korbannya dalam makna sesungguhnya.
Jika kita merasa kehilangan waktu banyak untuk kesibukan di facebok atau menonton hiburan, jika kita merasa lelah dalam mengelola suatu urusan dan merasa tidak ada manfaatnya, jika kita merasa rugi saat selesainya pekerjaan itu tidak ada penghargaan atas kerjakeras kita. Hati-hati, mungkin kita sedang terkorbankan, bukan berkorban. Karena sejatinya berkorban itu indah, tanpa keluh kesah.
 Sesungguhnya berkorban itu bermuara  pada apa yang membawa manfaat kehidupan, bukan untuk kesia-siaan. Maka, jika kita sedang merasa terkorban, ubahlah perbuatan kita itu. Cari kesibukan lain yang bermanfaat. Atau, jika tidak bisa, ubahlah motivasi dari perbuatan itu, agar memberi mashlahat, agar layak kita ajukan sebagai pengorbanan, bukti cinta kita kepada Rabb kita.

Marilah selalu mendayagunakan segala potensi, akal pikiran dan juga fisik kita, karena ibadah kita kepada Allah tidak hanya mengacu soal perasaan.
Wallahu a’lam

Ummu wafi
KL, Oktober 2013