“Biar anak orang lain pandai matematika, biar anak orang juara lomba pidato, biar anak-anak orang juara olahraga, tapi bapak mau , kalau anak yang pandai ngaji itu yang anak bapak..” demikian ujar seorang bapak dalam kisah sukses seorang anak yang pernah saya baca.
“Nak, kakak-kakakmu sudah ada yang jadi insinyur, sudah ada
yang jadi dokter, tinggal kamu masih sekolah, Ibu pingin punya anak akhirat
satu orang, Ibu pingin kamu jadi anak akhirat ibu… “Begitu seorang wanita doctor
lulusan al Azhar pernah bercerita tentang harapan ibunya kepadanya.
Lain lagi kisah keluarga kami, saat ayah saya menyimak
bacaan abang saya di usianya yg sudah kelas empat SD dan masih saja
bermain-main, langsung ayah mengambil kayu sebesar lengan, dan meletakkannya di
sisi kami ketika membaca. Hal ini cukup ampuh membuat kami lebih perhatian dan
serius dalam membaca al Qur’an.
Pernah juga saya berkesempatan berkomunikasi dengan
anak dari ayah ibu yang kesepuluh anaknya
hafizh qur’an, bahwa dulu kedua orangtuanya begitu disiplin, dan selalu punya
waktu khusus untuk mengajar anak-anaknya mengaji sehari-hari. Ancamannya, mulai dengan lidi sapu sampai
cabai pedas siap menusuk-nusuk yang mau mangkir.
Duhai, uniknya tindakan-tindakan ini…
Saya jadi mengingat saat-saat pernah terlibat dalam program
tahfizh qur’an untuk anak-anak di sebuah pesantren di Depok. Pengalaman itu membawa
saya pada satu kesimpulan, betapa para orangtua yang berdatangan mengantarkan
anak-anaknya adalah mereka yang sangat
besar harapannya agar anak-anak mereka dapat menghafal al Qur’an, seperti
obsesi yang diturunkan kepada anak. Anak-anak
kecil mereka usia SD itu rata-rata hanya bisa berjalan gontai dan tanpa
semangat memasuki asrama, kebanyakan dari mereka menangis meraung-raung saat melepas kedua orangtuanya
pergi meninggalkannya. Tapi para
orangtua ini begitu luar biasa.
Salah seorang wali murid akhirnya rela pindah rumah supaya lebih dekat ke pondok,
sehingga dapat melihat anaknya lebih sering. Ada lagi yang terpaksa
mengeluarkan tabungan khususnya untuk biaya pondok anaknya, yang dengan wajah
berbinar menyerahkan uang seraya berujar
“Saya pingin, Najla jadi hafizhah,”
ujarnya di sisi Najla, gadis kecil berumur 6 tahun di sisinya yang tengah bermain-main
dengan adik kecilnya.
Beberapa hari kemudian, seorang ayah berpenampilan sederhana
juga datang bersama dua anaknya, dan meminta tolong agar kedua anaknya boleh
ikut program tahfizh, dengan terang-terangan ia menyatakan kurang mampu, tapi
akan membayar dari pendapatannya sebagai tukang kayu. Mengharukan.
Sungguh begitu besar pengorbanan yang dilakukan para
orangtua bercita-cita mulia ini, mulai dari biaya hingga waktu dan tenaga yang
tidak sedikit. Bagaimana mereka memiliki
harapan-harapan ini? Mengapa tidak semua orangtua memiliki harapan seperti ini?
Mereka, tentunya para orang tua yang telah memahami
pentingnya mendidik anak Al qur’an dan punya komitmen untuk itu. Dan sesudah
itu, mereka seakan tak pernah berhenti berharap.
Walaupun sekolah, pesantren dan berbagai tempat untuk
belajar al Qur’an kini telah tersedia dan menyebar hingga ke pelosok, namun, pengalaman
selalu membuktikan bahwa hasil-hasil belajar anak tetap terpulang kepada
kegigihan dan harapan tulus para orangtua.
Sebelum anak-anak itu masuk dan belajar di bangunan-bangunan
kokoh, dan diatur dalam sistem kurikulum pendidikan yang terbaru, sebelum
mereka mengenal berbagai bahasa dan tulisan di papan tulis, sebelum mereka
berjumpa para guru al Qur’an di lembaga formal dan non formal, para anak itu,
telah tumbuh dalam dekapan penuh harap sosok-sosok guru sepanjang waktu, yakni orangtua mereka sendiri, yang selalu
menjadi sumber energi menuju keshalihan pribadi-pribadi mereka, yang terkadang
memakan waktu dan perjalanan yang tidak sebentar.
Saat para anak-anak itu tengah melantunkan murajaah
hafalannya di salah satu sudut pondok, ada orangtua mereka yang tengah
melamatkan doa-doa penuh harapan di salah satu sudut rumah.
Harapan-harapan orangtua mereka menggunung, mengembang, membuncah.
Hingga suatu hari menemukan titik ledaknya berupa tindakan yang bagi sebagian
orang terasa sangat ekstrim. Semua upaya terbaik dilakukan, agar anak-anak
kelak menjadi hafizh yang faqih, yang shalih dan mushlih. Sebuah mimpi, sebuah
cita-cita yang tidak hanya menjangkau pikiran bertumpu duniawi, tapi ini tentang kerinduan jiwa akan kehidupan
mulia di akhirat sana.
Dan bila begitu tingginya harapan ini tidak bertemu
kenyataan, para orangtua ini mungkin seperti terjatuh ke jurang, merasa sedih
dan sakit, namun ajaibnya, harapan itu
selalu datang lagi dan berderai bersama lantunan doa.. Sealu ada harapan, selalu ada kerinduan di
ruang jiwa yang memanggil-manggil dan tak rela dipadamkan begitu saja.
Mengapa? Karena Al Qur’an tidak dibatasi usia dan kesempatan,
tidak dikurung dalam urutan waktu belajar ataupun kelas-kelas, tidak dipudarkan
oleh dosa-dosa masa lalu. Pada Al Qur’an selalu ada kesempatan, bagi siapa
saja, pada waktu kapan saja, ya, selalu
ada harapan.
Boleh jadi, di usia belianya, anak-anak kita masih belajar
memotivasi dirinya sendiri untuk meraih keutamaan Al Qur’an, sehingga belum
berhasil menjadi hafizh pad usia SD, tapi, bukankah ada SMP? Boleh jadi kegemarannya pada bermain dan
pergaulan membuat anak kita jadi seperti kehilangan arah, tapi bukankah Allah
selalu dapat membolak-balikkkan hati?
Boleh jadi keterbatasan fisik tubuh anak kita karena lahir istimewa membatasi interaksinya dengan al Qur’an. Tapi
bukankah Al Qur’an itu memiliki ruh, dan bukan sekedar mushaf yang hanya bisa
disentuh?
Tidak ada alasan berhenti berharap, selagi nafas masih
terhela dalam diri kita dan anak-anak kita. Seluas harapan yang Allah hamparkan
di hadapan kita, yang tidak perlu dibatasi oleh ruang pikir dan gerak manusia
yang memang selalu terbatas.
Itulah, maka sang pemilik harapan seperti ini adalah
orangtua pilihan. Hanya mereka lah yang kelak layak mendapatkan mahkota di sana...
“Barangsiapa yang belajar Al Qur’an dan
mengamalkannya, maka pada hari kiamat nanti kedua orangtuanya akan disematkan
mahkota, yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari (karena telah
mengajarkan Al Qur’an kepadanya) ..” (HR Abu daud)
Maasyaa Allah. Tulisan yang menginspirasi teh ππ Semoga Umi dan anak2 Umi menjadi salah satu dari kumpulan yg diberi mahkota cahaya untuk orangtuanya.
ReplyDelete