Halaman

Saturday, July 12, 2014

Bersinar Mutiara... (Surat untuk Afifah)



Apakabar Afifah...?

Di ujung malam yang sejuk ini, amah teringat sebuah janji. Janji pada diri sendiri. Janji untuk selalu mengatakan kepada semua yang amah kasihi, agar tidak pernah menyerah atas apapun jua..
Seperti rembulan purnama malam Ramadhan ini yang begitu indah, walau awan sesekali menutupinya..
Laksana  gemintang yang tetap  bercahaya kini  walau nampak kurang terangnya terhalang purnama..
Sebagaimana jangkrik di tepi rumah yang tetap ramai bernyanyi, walau deru lalu lintas malam nyaring terdengar di tengah kota.

Apakabar Afifah..?

Dulu, waktu seumuranmu, sering amahmu ini berpikir, betapa hidup sempurna itu ada pada wajah yang menawan, nilai yang baik di sekolah dan persahabatan yang ramah.. tentu juga, keuangan yang berlimpah..
Tapi perjalanan hidup amah yang sempurna justeru terasa saat amah tidak merasakan semua kenikmatan seperti yang amah bayangkan itu...
Begini ceritanya..
Saat amahmu ini kecil, tak ada seorangpun yang mengajarkan bagaimana harusnya amah bercita-cita.. maka segala pikiran amah hanya dipenuhi oleh khayalan akan kehidupan yang bukan kehidupan. Sehingga begitu amahmu ini kembali kepada kenyataan, rasanya sedih dan tidak percaya diri. Rasanya hidup ini begitu membosankan. Rasanya mentok pada kalimat, "udah jalanin aja.."
Tidak seperti anak-anak jaman sekarang yang pikirannya terbuka dengan banyak motivasi yang postif, amah terkukung dengan kalimat, "ah segini juga udah syukur..."

Dulu, saat SMP kelas tiga belum dapat pengumuman NEM, salah seorang guru memberikan kertas kepada kami para murid di SMPM, kami disuruh menulis sekolah tujuan selepas SMP nanti.
Amahmu ini tangannya kelu, mau nulis SMA Negeri 1 Depok, malu, mau nulis SMA swasta, ga tau.. bener bener ga punya rencana.. padahal udah SMP kelas 3.. ckckck..

Setelah pengumuman NEM keluar, amah pikir itu nem ajaib sedunia, paling tinggi sekampung, akhirnya masuk ke SMA 1 depok. Begitu ketemu temen pertama, kenalan, saling menyebutkan nem, langsunglah amahmu sadar, nem amah bukan apa-apa...nem si dia rupanya 3 angka di atas amah, letoy dah,  dan mulailah amah ketakutan.. "duhai, mampukah aku sekolah di sini?"

Ini serius.. amah sempat memohon dalam hati, agar jangan jadi siswa terkenal di SMA 1, bakalan banyak beban nanti. Maka di kelas 1, ga pernah pingin dapat rangking satu, ga pingin aktif organisasi, kecuali rohis, ga pingin banyak bersuara, karena takut terkenal, ya takut terkenal... bener-bener aneh waktu itu.

Semua yang amah jalani soal nilai dan perasaan, sampai amah masuk ke jenjang kuliah mengajarkan amah satu hal.. bahwa, Nilai-nilai amah boleh jadi lumayan, tapi tidak pernah berhasil membawa amahmu menjadi pribadi yang kuat. Tidak.. sama sekali tidak,
Paling jelas waktu kuliah, amah menyaksikan sendiri, bahwa kecerdasan sesungguhnya ada pada keterampilan mengelola emosi, dan kesiapan menghadapi masalah.. itu dia!

Afifah tahu?
Dulu pernah amahmu ini memilih menggendongmu setengah harian sambil nunggu ummi mu kembali mengajar, di rumah nenek kakek.. dan untuk itu, amah meninggalkan satu mata kuliah, ya, bolos satu mata kuliah yang menyeramkan.. hehe..
sebenarnya mungkin  amah waktu itu sedang sembunyi sambil menggendongmu, dari beban kuliah yang menggunung, tugas yang belum dikerjakan dan dosen yang galaknya ga ketulungan..
padahal pada saat yang sama, kawan-kawan amah terus maju dan bergerak, melakukan apa yang perlu dilakukan.. dan itu lebih baik.

Syukurnya, Allah selalu memberi kesempatan..
Amah merasakan saat-saat terakhir kuliah sebagai saat-saat paling menyenangkan dalam proses menuntut ilmu. Amahmu ini punya gairah lebih.. adapa apakah? kenapa?
Skripsi..
Skripsi ini titik balik amah menemukan tekad untuk menikmati proses belajar dan berkarya. Menikmati dan menghadapi momen-momen berurusan dengan beragam orang, yang ramah dan yang garang, amah mulai menemukan cara-cara yang nyaman untuk amahmu lalui..
bayangkan, dari SD, SMP, SMA ngapain aja? Well, ternyata amah berasa benar-benar belajar pas akhir kuliah.. hehe.. what a shame, tapi sangat bersyukur.

Kini, amah sering bilang ke Wafi.. ga apa-apa nilainya ga bagus, yang penting ngajinya ok..
Juga ke Bina, ga papa nilainya kurang, kan ngajinya semangat...
Amah juga ceritakan ke mereka, bahwa sekolah sempurna itu bukan di sekolah.. sekolah itu ada di kehidupan..
Seperti amah yang harus nunggu sampai akhir masa kuliah dulu baru bisa menikmati proses menuntut ilmu, demikian pula wafi, bina, afifah dan semua cucu-cucu kakek. Nikmati prosesnya...

Sekolah itu untuk menuntut ilmu pengetahuan, tapi yang membuat seseorang berilmu, bukan hanya sekolahnya dimana.. karena sekolah yang benar-benar mengajari kita adalah sekolah kehidupan kita sendiri. Di rumah, di lingkungan dan dimana jua...

Seperti Imam Syafi'i yang lahir di Gaza, lalu ke Mekkah lalu ke Baghdad lalu ke Mesir.. Mutiara adalah mutiara.. dimanapun dia berada.

Saat Allah memilih sesuatu jalan yang tidak kita harapkan, kita harus yakin bahwa itu adalah jalan yang lebih baik.. jalani, lalu saksikanlah keajaiban dalam hidupmu.. Ya, Allah lebih mengetahui mana yang membuat mutiara lebih bersinar..
Kalau kita ridha pada ketetapanNya, betapa Ia yang maha rahman pasti akan menambah nikmat Nya kepada kita..

Kita boleh sedih dan kecewa, tapi kita tidak akan menyerah...
Cita-cita kita tidak hanya lewat satu jalan saja, ada banyak jalan yang lebih baik yang belum tersingkap..
Salah satu pelajaran dari sekolah kehidupan adalah... selalu bersemangat dengan hal-hal baru.. karena pasti ada banyak kebaikan di situ. Berupa kawan baru, pelajaran baru, keterampilan baru, ilmu baru, dan banyak hal..

Afifah.. bersemangatlah...
jangan biarkan apapun jua membuat kita lemah..
Kita punya rencana, tapi setelah itu kita harus belajar menyesuaikan diri dengan rencana Allah yang lebih baik...

Hidup Sedih dan susah itu biasa
Untuk tidak menyerah, itu luar biasa...

Selamat bersinar wahai mutiara, dimanapun dirimu berada...

KL, 13 Juli 2014

Amah Ilmi

#episode amah
 

No comments:

Post a Comment