Halaman

Monday, June 2, 2014

Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda


“Biar anak orang lain pandai matematika, biar anak orang juara lomba pidato, biar anak-anak orang juara olahraga, tapi bapak mau , kalau anak yang pandai ngaji itu yang anak bapak..” demikian ujar seorang bapak dalam kisah sukses seorang anak yang pernah saya baca.

“Nak, kakak-kakakmu sudah ada yang jadi insinyur, sudah ada yang jadi dokter, tinggal kamu masih sekolah, Ibu pingin punya anak akhirat satu orang, Ibu pingin kamu jadi anak akhirat ibu… “Begitu seorang wanita doctor lulusan al Azhar pernah bercerita tentang harapan ibunya kepadanya.

Ah, ajaibnya harapan-harapan ini…

Lain lagi kisah keluarga kami, saat ayah saya menyimak bacaan abang saya di usianya yg sudah kelas empat SD dan masih saja bermain-main, langsung ayah mengambil kayu sebesar lengan, dan meletakkannya di sisi kami ketika membaca. Hal ini cukup ampuh membuat kami lebih perhatian dan serius dalam membaca al Qur’an.

Pernah juga saya berkesempatan berkomunikasi dengan anak  dari ayah ibu yang kesepuluh anaknya hafizh qur’an, bahwa dulu kedua orangtuanya begitu disiplin, dan selalu punya waktu khusus untuk mengajar anak-anaknya mengaji sehari-hari.  Ancamannya, mulai dengan lidi sapu sampai cabai pedas siap menusuk-nusuk yang mau mangkir.

Duhai, uniknya tindakan-tindakan ini…

Saya jadi mengingat saat-saat pernah terlibat dalam program tahfizh qur’an untuk anak-anak di sebuah pesantren di Depok. Pengalaman itu membawa saya pada satu kesimpulan, betapa para orangtua yang berdatangan mengantarkan anak-anaknya adalah mereka yang  sangat besar harapannya agar anak-anak mereka dapat menghafal al Qur’an, seperti obsesi yang diturunkan kepada anak.  Anak-anak kecil mereka usia SD itu rata-rata hanya bisa berjalan gontai dan tanpa semangat memasuki asrama, kebanyakan dari mereka menangis  meraung-raung saat melepas kedua orangtuanya pergi meninggalkannya.  Tapi para orangtua ini begitu luar biasa.

Salah seorang wali murid akhirnya rela  pindah rumah supaya lebih dekat ke pondok, sehingga dapat melihat anaknya lebih sering. Ada lagi yang terpaksa mengeluarkan tabungan khususnya untuk biaya pondok anaknya, yang dengan wajah berbinar menyerahkan uang  seraya berujar  “Saya pingin, Najla jadi hafizhah,” ujarnya di sisi Najla, gadis kecil berumur 6 tahun di sisinya yang tengah bermain-main dengan adik kecilnya.

Beberapa hari kemudian, seorang ayah berpenampilan sederhana juga datang bersama dua anaknya, dan meminta tolong agar kedua anaknya boleh ikut program tahfizh, dengan terang-terangan ia menyatakan kurang mampu, tapi akan membayar dari pendapatannya sebagai tukang kayu. Mengharukan.

Sungguh begitu besar pengorbanan yang dilakukan para orangtua bercita-cita mulia ini, mulai dari biaya hingga waktu dan tenaga yang tidak sedikit.  Bagaimana mereka memiliki harapan-harapan ini? Mengapa tidak semua orangtua memiliki harapan seperti ini?

Mereka, tentunya para orang tua yang telah memahami pentingnya mendidik anak Al qur’an dan punya komitmen untuk itu. Dan sesudah itu, mereka  seakan tak  pernah  berhenti berharap.

Walaupun sekolah, pesantren dan berbagai tempat untuk belajar al Qur’an kini telah tersedia dan menyebar hingga ke pelosok, namun, pengalaman selalu membuktikan bahwa hasil-hasil belajar anak tetap terpulang kepada kegigihan dan harapan tulus  para orangtua.

Sebelum anak-anak itu masuk dan belajar di bangunan-bangunan kokoh, dan diatur dalam sistem kurikulum pendidikan yang terbaru, sebelum mereka mengenal berbagai bahasa dan tulisan di papan tulis, sebelum mereka berjumpa para guru al Qur’an di lembaga formal dan non formal, para anak itu, telah tumbuh dalam dekapan penuh harap sosok-sosok  guru sepanjang waktu,  yakni orangtua mereka sendiri, yang selalu menjadi sumber energi menuju keshalihan pribadi-pribadi mereka, yang terkadang memakan waktu dan perjalanan yang tidak sebentar.

Saat para anak-anak itu tengah melantunkan murajaah hafalannya di salah satu sudut pondok, ada orangtua mereka yang tengah melamatkan doa-doa penuh harapan di salah satu sudut rumah.

Harapan-harapan orangtua  mereka menggunung, mengembang, membuncah. Hingga suatu hari menemukan titik ledaknya berupa tindakan yang bagi sebagian orang terasa sangat ekstrim. Semua upaya terbaik dilakukan, agar anak-anak kelak menjadi hafizh yang faqih, yang shalih dan mushlih. Sebuah mimpi, sebuah cita-cita yang tidak hanya menjangkau pikiran bertumpu duniawi,  tapi ini tentang kerinduan jiwa akan kehidupan mulia di akhirat sana.

Dan bila begitu tingginya harapan ini tidak bertemu kenyataan, para orangtua ini mungkin seperti terjatuh ke jurang, merasa sedih dan sakit, namun  ajaibnya, harapan itu selalu datang lagi dan berderai bersama lantunan doa..  Sealu ada harapan, selalu ada kerinduan di ruang jiwa yang memanggil-manggil dan tak rela dipadamkan begitu saja.

Mengapa? Karena Al Qur’an tidak dibatasi usia dan kesempatan, tidak dikurung dalam urutan waktu belajar ataupun kelas-kelas, tidak dipudarkan oleh dosa-dosa masa lalu. Pada Al Qur’an selalu ada kesempatan, bagi siapa saja, pada waktu kapan saja,  ya, selalu ada harapan.

Boleh jadi, di usia belianya, anak-anak kita masih belajar memotivasi dirinya sendiri untuk meraih keutamaan Al Qur’an, sehingga belum berhasil menjadi hafizh pad usia SD, tapi, bukankah ada SMP?  Boleh jadi kegemarannya pada bermain dan pergaulan membuat anak kita jadi seperti kehilangan arah, tapi bukankah Allah selalu dapat membolak-balikkkan hati?  Boleh jadi keterbatasan fisik tubuh  anak kita karena lahir istimewa  membatasi interaksinya dengan al Qur’an. Tapi bukankah Al Qur’an itu memiliki ruh, dan bukan sekedar mushaf yang hanya bisa disentuh?

Tidak ada alasan berhenti berharap, selagi nafas masih terhela dalam diri kita dan anak-anak kita. Seluas harapan yang Allah hamparkan di hadapan kita, yang tidak perlu dibatasi oleh ruang pikir dan gerak manusia yang memang selalu terbatas.

Itulah, maka sang pemilik harapan seperti ini adalah orangtua pilihan. Hanya mereka lah yang kelak layak  mendapatkan  mahkota di sana...

Barangsiapa yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat nanti kedua orangtuanya akan disematkan mahkota, yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari (karena telah mengajarkan Al Qur’an kepadanya) ..” (HR Abu daud)

1 comment:

  1. Maasyaa Allah. Tulisan yang menginspirasi teh πŸ˜“πŸ˜“ Semoga Umi dan anak2 Umi menjadi salah satu dari kumpulan yg diberi mahkota cahaya untuk orangtuanya.

    ReplyDelete