Halaman

Tuesday, August 2, 2016

Sang Jawara

Suatu siang di pemukiman dekat pondok pesantren di kampung Cipayung Jaya, kediaman baru kami saat itu.

Mpok Juju, begitu panggilan kami thd tetanggaku ini, begitu terpana mengetahui bahwa aku asli keturunan depok juga. Selalunya, kata beliau, yg mengasuh ponpes sblm ust Yusuf  ini dari jauh, beda kota beda provinsi. Seperti halnya ust sebelum kami, ust Fauzan namanya, beliau berasal dari Sumatera.

Saat kusampaikan bahwa ayahku asli dari Parungbingung, dia begitu antusias dan nampak berpikir, lalu segera menyebut satu nama dalam tanya: "Eh, umi tau ga ama Pak Na'amin, dukun.. tukang ngobatin orang? Rumahnya di Gondang, Parungbingung. Itu dulu kita kan kalo ke Gondang berobat ke sono... Terkenal banget dah. Udah meninggal tapi", ujarnya nyaring khas.

Waduh... Deg, aku terdiam dalam terkejut, hingga syukurlah kesadaranku mengambil alih situasi, dan kembali bisa menyambung pembicaraan normal dengan mpok Juju dan keluarganya yang ramah.

Ya, nama Na'amin, begitu istimewa, membawaku pada fragmen kenangan bahkan spt legenda bagi dunia kecil ku. Walau aku hanya mendapat potongan-potongan kecil kisahnya, aku merasa dia cerita yang tetap berguna.

Di antara seluruh kisah yg pernah kudengar tentang kong Naamin, demikian beliau kupanggil, bagian favoritku adalah kisah taubatnya beliau. Konon kabarnya beliau dulu seorang jawara yang telah melewati pertapaan di banyak gunung utk mencari kesaktian, namun terpuruk dengan kehidupan yang sulit akibat pergulatan hidup pada masa itu, bahkan hampir menyisakan keluarga yang terlantar tak berdaya.
Menjadi putera seorang tokoh, dan menjadi jawara pada masanya, tidak mesti menjadikan seseorang sukses, ia mmg terkenal, orang banyak datang utk meminta bantuan atas 'kesaktiannya', tapi itu tidak membuatnya kaya.
Aku pernah mendengar kisah, saat rumah tinggal keluarga kong Naamin harus tertimpa air hujan, masuk ke dalam rumah, karena tiada lagi atap. Katanya, saat itu atap rumah harus diangkat sebagai harga dari pertaruhan yg dilakukannya.
Ada kisah anak-anak kong Naamin yang lapar akan masuk ke dapur dan tak bertanya pada sang ibu utk tahu ada makanan atau tidak, cukup  menginjak dapur sekedar meninjau, apakah terasa panas atau tidak,jika panas berarti sang ibu memasak, jika tdk panas berarti tdk ada makanan yg bisa dimakan utk hari itu.
Hidup yang susah, diperparah dgn musim paceklik. Namun, di sinilah agaknya hidupnya mulai berubah. Kong Naamin bertekad tdk ingin menyusahkan keluarga lagi. Beliau pun bertaubat.
Saat-saat hidayah itu datang bertepatan dengan hadirnya sebuah pengajian. Beliau ikut pengajian ini, yg di kemudian hari merupakan cikal bakal berdirinya Ormas Muhammadiyah di kota Depok. Di sini ada kisah tersendiri, ttg penentangan warga kampung yg menganggap pengajian itu sesat. Bahkan fitnah  yg membuat rumah pengajian diserbu masyarakat. dilempari batu, shg peserta pengajian hrs menyelamatkan diri.
Kisah perjuangan pribadinya sebagai pencari nafkah, adalah pekerjaannya menjual minuman cincau yang diracik sendiri lalu pergi ke Beos (stasiun Kota) utk berdagang di sana, meninggalkan keluarga berhari-hari menjemput rizki.

Beliau mgkn pernah dikenal sebagai dukun, namun setelah taubat semua jimatnya sdh dibuang katanya, segala hal yg terkait praktek syirik pun sdh dibersihkannya. Namun orang-orang ttp datang utk berobat kepadanya.

Di masa kecilku, aku masih menyaksikannya meracik obat, membungkusnya dan meresepkannya utk para pelanggan, ia tdk minta bayaran, seikhlasnya.
Datang kepadanya orang dengan berbagai penyakit, dari demam hingga yang ingin mendapat jodoh. Dari berbagai kampung di kota depok.
Dan apapun penyakitnya, obat yg diberikan hanya puyer satu jenis itu saja. Beliau akan menasihati si sakit, memberi tahu ramuan tradisional kadang menyuruh si sakit berpuasa serta mendoakannya.
Kong Naamin mendapat tempat tersendiri, walaupun sdh tdk ditakuti karena ke'sakti'an ilmu nya, orang-orang masih percaya bahwa beliau bisa dimintai pertolongan. Al kisah ada orang demam yang berhasil disembuhkan dengan memandikannya tengah malam, atau prestasinya berhasil menjodohkan banyak pasangan di kampung-kampung yg masih ada dan sdh beranak cucu hingga kini.

Cerita fenomenal ttg masa lalu kong Naamin sebagai jawara masih sempat kudengar dari kalangan tua yg kadang berkunjung ke rumahku, kadang aku tak begitu percaya, nyaris spt cerita film pendekar zaman dahulu.

Aku bersyukur sempat menyaksikan sang jawara itu di masa hidupnya, kala beliau tampak sbg sosok tua dengan rambut memutih yang sangat ramah. Mengerjakan apa yg bisa dikerjakannya sebagai pria tua biasa, dari melayani orang yang ingin diobati hingga membantu tukang bangunan membangun rumah kami, sangat bersahaja.

Aku masih ingat momen duka itu, saat orang mengumumkan bahwa beliau sdh dipanggil Allah swt, katanya beliau meninggal di malam hari, sesuai jadwal kebiasaannya utk shalat malam. Saat itu, saat orang2 sibuk hendak melayat, aku yang masih sekitar kelas 5 SD waktu itu, hanya duduk diam di atas pohon Waru dekat rumahku, dgn perasaan tak menentu.

Suatu hari, cerita ibuku, ayahku yang seorang guru PNS pernah didatangi seseorang utk berobat. Beliau berharap ayahku bisa berbuat seperti kong Naamin biasa berbuat. Tapi ayahku segera menyatakan bahwa orang itu salah alamat, beliau tdk bisa. Tidak ada penurunan ilmu apa-apa, katanya.

Ya, kong Naamin atau Pak Na'amin, nama yg disebut pok Juju itu, beliau adalah kakekku. Ayah dari ayahku.

Aku ingin tersenyum saat mengenangnya, aku tdk ingin mengenangnya sbg dukun spt kata pok Juju, aku akan menceritakan kpd anak-anakku, bahwa kong Naamin, adalah kakek dan buyut yg seorang pejuang juga insyaAllah. Berjuang utk kembali ke jalan yang lurus yang kisahnya bisa diambil sebagai pelajaran. semoga Allah menerima taubatnya, menerima amalnya dan memberkahi keturunannya dgn kefaqihan dalam agama. Aamiin.

1 comment: