Halaman

Thursday, January 7, 2016

Rumah Kami (1), Dunia Sederhana Tanpa Sekolah

Tidak seperti berbagai kalangan yang meng 'homeschooling'kan anak-anak dengan idealisme dan ketekunan yg luar biasa, sesungguhnya yang terjadi di rumah kami adalah keadaan 'transisi' yang terpaksa sehingga harus 'merumahkan' anak-anak sementara waktu di rumah.  Kami, bukan keluarga yg menolak sistem sekolah, -walaupun tetap mengkritisi sesekali- , kami adalah keluarga yang menjadikan sekolah sebagai bagian dari kehidupan normal seperti kebanyakan masyarakat. Apalagi saya, yang notabene anak seorang kepala SDN di Indonesia sana, sejak kecil terbiasa tinggal di rumah dinas yang biasanya menempel dengan gedung sekolah, memang tidak akrab dengan dunia anak-anak tanpa sekolah. Mungkin bagi sosok ayah, saya sebagai satu-satunya anaknya yang meneruskan kuliah di sekolah keguruan, seharusnya lebih pas menjadi penerus karirnya di dunia persekolahan. Syukurlah beliau tidak kecewa walaupun 'sang penerus' yang dimaksud itu lebih memilih profesi menjadi ibu rumah tangga sepenuh masa kini (tapi banyak acara, hehe)... bahkan lebih dari itu, anaknya ini memilih 'sementara' dunia tanpa sekolah bagi cucu-cucunya di negeri jiran ini.

Awal mulanya adalah hari itu...

saat suami menawarkan dua anak usia SD kami utk sementara waktu 'dirumahkan' dulu karena beberapa kendala teknis (bukan filosofis), dan saya tidak mengelak karena, pertama, tidak punya pilihan, Kedua, merasa tertantang dengan ungkapan suami yang meminta saya mengajar anak-anak di rumah.  "Kan umi sarjana pendidikan? " begitulah kira-kira. 
Akhirnya saya putuskan 'Ya', tidak ada salahnya mencoba.

Modal utama saya adalah perintah suami.  Semoga ketaatan ini membawa keberkahan. Modal pengetahuan seputar homeschooling saya cari dari internet dan segera menyadari bahwa saya termasuk 'kuper' soal ini. Sudah banyak berdiri komunitas-komunitas homeschooling, dan walaupun terasa asyik sekali menjelajah dunia homeschooling ini, sampai kini belum ada satupun komunitas yang saya ikuti secara khusus. Kenapa?  Mungkin fokus saya lebih ke kemandirian, mengingat kami tidak tinggal di Indonesia dan tidak ingin mengandalkan internet untuk urusan pendidikan anak-anak. Saya pun akhirnya menemukan istilah 'unschooling' dan PBK. 
Unschooling artinya konsep tidak sekolah dan tidak terikat dengan komunitas tertentu pengganti sekolah. Juga tidak memiliki syarat kurikulum tertentu dan lain sebagainya.  Dipadu padankan dengan konsep PBK, yang merupakan akronim dari Pembelajaran Berbasis Keluarga, saya berusaha menetapkan sendiri konsep belajar anak-anak di rumah. 

Pergulatan konsep di awal itu membuat saya merancang kegiatan persiapan yang mana saya harus melibatkan suami sebagai sang inisiator. Agenda pertama adalah: Raker khusus membahas kurikulum untuk anak-anak. Harus ada kesepahaman dalam visi, misi, tujuan jangka panjang jangka pendek dan berbagai hal yang perlu dititikberatkan dalam pendidikan anak-anak. Dalam raker ini pun, saya memberi peluang fleksibilitas dalam hal waktu pembelajaran harian, mengingat saya sudah membayangkan bagaimana rumitnya mematuhi peraturan yang terlalu ketat dalam mengajarkan dua anak SD yang biasa ribut sesamanya ditambah kondisi harus mengasuh dua adik mereka yang masih balita.

Hasil raker itu akhirnya mewujud berupa jadwal harian senin sampai ahad dan peta target tahunan yang harus dicapai per anak. Bagi abinya anak-anak, al Qur'an nomor satu.  Bahkan menurut nya itulah kurikulum utama anak-anak. Maka saya menyerahkan target dan program harian Al Qur'an anak-anak kepadanya. Sementara bagi saya, saya merasa memiliki misi membentuk pola pikir anak yg cinta ilmu dan baik akhlaknya sambil mempersiapkan ujian paket A sesuai kurikulum yg berlaku di Indonesia. 

Dari diskusi-diskusi dan evaluasi setahun terakhir, dengan berbagai kekurangan, saya memandang PBK dalam versi keluarga kami setidaknya harus memiliki beberapa perangkat berikut ini:
  1. Target pembelajaran non akademik (hafalan qur'an yang terutama) juga indikator akhlaq dan kemandirian sesuai usia mereka.
  2. Target pembelajaran akademik (kejar paket A)
  3. Media belajar akademik (buku latihan dan teks, soal2 latihan yg banyak di internet )
  4. Media belajar non akademik (buku2 umum, kegiatan belajar di perpus, sumber belajar internet)
  5. Projek rumah (skill ataupun praktek lab alakadarnya). Ini kadang perlu ada stok aktifitas, karena kejenuhan dapat melanda kapan saja.
  6. Group bermain atau belajar utk sosialisasi anak. (bisa pake liqo anak, main di tetangga atau di masjid, atau janjian sama sahabat mereka)
  7. Administrasi (termasuk jadwal) utk bahan evaluasi dan mutaba'ah oleh umi dan abi (dibuat untuk diisi harian, jadi harus mudah dijangkau dan diisi )
  8. Rekreasi dan outdoor activities. (tdk perlu mahal, bisa ke taman, ke perpus, ke museum dlsb)
Pada proses pelaksanaan harian, kami temukan beberapa tantangan (yang sudah bisa diprediksi):
  1. Ketiadaan atau kekurangan  media belajar.  
  2. Gangguan lingkungan. Adik-adi kecil yang minta perhatian, masak di dapur, kehadiran tamu dlsb. 
  3. Aktifitas umi abi yang menyita waktu keluar sehingga kesulitan mendampingi anak-anak di rumah. 
  4. Kejenuhan pada anak-anak bahkan juga pada umi abinya yang berdampak pada stagnannya program. 
  5. Kelemahan emosionil harian antara sesama anak atau antara anak dan ortu, bahkan antara ortu dan ortu. 
Nah, kendala kendala ini bisa lumayan teratasi dengan beberapa trik berikut:
  1. Menyiapkan tugas utk anak-anak utk diselesaikan ketika umi abi harus tugas keluar
  2. Mengajak mereka ikut serta (bila memungkinkan) pada aktifitas umi abi di luar. Misal, umi mengajar tahsin, anak-anak semua ikut.
  3. Bertoleransi atas berantakannya rumah bahkan menjadikan momen merapikan rumah sbg bagian dari pembelajaran
  4. Fleksibel dalam pelajaran harian, sehingga tdk harus kosong bila tdk ada bahan tetapi diganti pelajaran lain 
  5. Memperbanyak buku dan aktifitas literasi seperti menulis dlsb
  6. Memberdayakan kreatifitas mereka di dapur, dan di kamar (dgn masak masak atau membuat handcraft)
  7. Membuat quiz pekanan atau bercerita bersama 
  8. Mengajak mereka keluar rumah sekedar belanja ringan sambil ngobrol 
  9. Mengajak ke taman atau jogging ringan di lokasi yg dekat
  10. Dan lain lain.. 

Apakah semua itu akan berhasil? namanya juga rencana, kita hanya berusaha memilih yang paling baik sesuai hasil pikiran kita sebagai orangtua. 

Namun, ada hal- hal positif apa yang nampak dari perkembangan anak-anak menurut pengamatan saya.  Saya tidak terbiasa men share kegiatan belajar mereka di rumah, tapi secara umum ada begitu banyak hal yang sangat disyukuri dengan dunia tanpa sekolah mereka setahun ini. Diantaranya:
  1. Mereka secara fisik lebih sehat, keluhan demam dan lain sebagainya hampir bisa dihitung dengan jari tangan.
  2. Tingkat stress berkurang karena tekanan pekerjaan sekolah atau kelelahan juga berkurang. Umi abi bisa lebih paham emosi harian anak.
  3. Daya eksplorasi meningkat, karena mereka punya waktu luang yang cukup banyak untuk mengamati sekitar
  4. Daya baca meningkat drastis, alhamdulillah ada perpustakaan yang bisa kami kunjungi dengan mudah, lengkap dan gratis. beberapa bulan terakhir anak-anak bisa meminjam sampai 20 buku per pekannya. Mereka berlimpah bahan bacaan.
  5. Kreatifitas dan kemandirian bertambah, sebab banyak membantu uminya untuk tugas-tugas di dapur. Anak-anak biasa menggoreng telur sendiri atau memasak secara sederhana. Dan karena sering juga ditinggal keluar, mereka bisa bekerjasama menjaga keamanan rumah.
  6. Perhatian umi abi terhadap perkembangan emosi dan akhlaq mereka lebih mudah, karena keseharian mereka terpantau lebih dekat
Tapi, kekurangannya juga cukup perlu mendapat perhatian, diantaranya:
  1. Kedisiplinan ala sekolah dari jam bangun sampai jam tidur atau jam mengerjakan tugas jadi hilang berganti dengan jadwal yang sangat fleksibel karena sangat mengandalkan jadwal umi abi. Tantangannya, umi abi yang harus disiplin lebih dulu.
  2. Kurangnya sosialisasi yang lebih luas untuk anak-anak.
  3. Anak-anak kurang patuh terhadap target harian, dan ini memang kembali kepada kedisiplinan orangtua. Kadang umi abi terlalu lelah atau sedang gagal fokus, maka akibatnya adalah anak-anak kurang terperhatikan disisi belajar hariannya.
Tentu harus terus ada evaluasi, karena ini adalah pelajaran utamanya. anak-anak dan umi abinya sama-sama belajar di dunia tanpa sekolah di rumah kecil kami saat ini.  Kami pun menyadari, mereka tidak akan tinggal di rumah selalu, bila tiba masanya usia mereka mencapai jenjang SMP atau SMA atau bila sekolah memang lebih baik, mereka harus sekolah dan menuntut segala pengalaman bersekolah yg bisa jadi juga sangat indah. Dan untuk itu, biar mereka memutuskan dgn pertimbangan mereka sendiri.

Kita memang tidak tahu bagaimana usaha ini akan berujung.  Tapi, inilah kesempatan umi abi untuk terus berbenah dalam membersamai anak. Ini bukan soal egoisme ingin mengasuh anak tanpa peran serta guru sekolah dlsb, ini soal tanggungjawab dan pilihan yg sdh diambil. 
Semoga Allah memberi taufik kepada keluarga kami.. 
Semoga dgn segala ketidaksempurnaan ini, kelak mereka menjadi muslim berakhlak yang hafizh, dan memimpin umat dengan ilmu dan keberanian.  Aamiin... 


Kuala Lumpur, Kamis, 5 Januari 2016
ditulis dengan hape sambil nidurkan Yasin.. (banyak nyingkat kata :) dan belum teredit EYD nya). Setelah hampir dua tahun nggak update blog...

Ditahun kedua unschooling Wafi Bina Yahya Yasin sambil menanti kelahiran adik mereka. 
alhamdulillah.

2 comments: