Baru saja kita lalui tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional. Dengan momentum ini, Kami mengajak untuk mencermati sebuah refleksi tentang pendidikan, tentu dalam perspektif keislaman kita.
Pendidikan dalam sejarah ummat
Rasulullah adalah guru terbaik yang telah mendidik manusia, lengkap dengan tuntunan wahyu dan keteladanan. Rumah al Arqom adalah sekolah bagi para shabat. Masjid menjadi ruang kuliah. Duduk-duduk bersama sebagai kursus dan pelatihan. Selanjutnya, murid—murid pertama ini langsung bergerak di ruang-ruang kehidupan, dari Masjid hingga pemerintahan, dari rumahtangga hingga penaklukan. Dalam kurun waktu sebelum hijrah, kita belajar tentang pondasi, Rasulullah menanamkan aqidah yang kokoh. Dalam periode pasca hijrah, kita belajar tentang diskusi dan ekspansi, Rasulullah membangun sistem dan memimpin negara baru yang disegani. Kita dapat mengambil pelajaran yang teramat banyak dari pendidikan di kurun kenabian, satu diantaranya, bahwa pendidikan yang berhasil sangat ditentukan oleh sang pendidik. Dan Rasulullah sebaik-baik teladan.
Pada periode khilafah Islam, pendidikan adalah ciri khas yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan peradaban Islam. Ciri keilmuan lewat universitas-universitas yang dibangun, juga perpustakaan bersistem canggih serta arsitektur berkelas masih dapat dilihat sisa-sisanya hari ini. Sistemnya terus diwariskan hingga ditiru barat sekarang, kecuali system pendidikan akidah dan akhlaq nya. Baju toga hitam dalam wisuda itu adalah warisan ulama, hitam diambil dari warna kain ka’bah, dan topi segi empat itu (di Indonesia segi lima, pancasila) menandakan ka’bah. Peradaban barat punya hutang terhadap peradaban Islam. Dulu, kala Bashrah bermandi cahaya, Eropa masih gelap dan penuh rawa. Saat ummat Islam telah menemukan sabun, mereka menganggap mandi aktifitas berbahaya. Dalam kurun panjang khilafah kita menarik makna, pendidikan adalah peradaban.
Dalam sejarah Indonesia, lewat dakwah Islam, pendidikan formal kala itu mulai membangun bentuknya. Boleh dikatakan, para ulama berjihad lewat pendidikan. Lewat masjid, pesantren dan perguruan, lahirlah kalangan terdidik dari para ulama dan santri yang membentuk pergerakan-pergerakan kemerdekaan yang membawa Indonesia menuju kemerdekaannya. Dalam kurun penjajahan atas bangsa ini kita dapat belajar, di antaranya, bahwa pendidikan adalah pembebasan, pembebasan yang bermakna bahwa kemerdekaan asasi adalah tauhidullah, dan jalan penegakkannya adalah mengusir penjajah kafir dari tanah air.
Antara Ilmu Akhirat dan ilmu Dunia
Pendidikan kita tidak mengacu pada sekularisasi ilmu. Padahal semua ilmu itu dari Allah. Seorang murid yang tengah belajar pelajaran fisika sesungguhnya tengah mendalami ayat-ayat Allah, juga dalam mempelajari ilmu-ilmu sosial hingga filsafat. Adalah tantangan bagi para pendidik untuk selalu menjelaskan kajian keilmuan dari sudut keimanan atau sebaliknya. Pemahaman yang kita kehendaki adalah bahwa setiap ilmu yang membawa mashlahat adalah hikmah, dimana kaum musliminlah yang paling berhak menguasainya demi kemashalahatan alam semesta.
Dalam profil ilmuwan muslim kita menyaksikan Jabir ibnu Hayyan sang bapaknya ilmu kimia, Ia memiliki dua ruang utama berdampingan di dalam rumahnya, satu ruangan eksperimen untuk penemuan imiahnya, satu lagi ruang untuk zikir dan shalat malam. Juga profil imam Syafi’I, yang panahnya tak pernah meleset dari sasaran, dan masih banyak lagi.
Ruang Belajar Kita
Banyak dari kita masih menganggap kecerdasan seseorang dilihat hanya dari satu aspek, yakni kognitifnya saja. Anak yang bodoh masih sering dimaknai sebagai anak yang nilai-nilai pelajarannya jelek di sekolah. Ini tidak adil, sebab setiap anak sebenarnya memiliki kecerdasan, yang jensinya berbeda-beda. Itulah maka dalam Islam, pendidikan aqidah dan akhlaq begitu utama. Jika anak memiliki aqidah dan akhlaq yang baik, kecerdasannya akan menyesuaikan. Ada satu tulisan yang pernah mengungkapkan satu jenis kecerdasan, sebagai tambahan dari multiple intelegences –nya Howard Gardner, yakni kecerdasan eksistensial. Kecerdasan eksistensial ini sangat menarik karena dapat melejitkan 8 jenis kecerdasan lainnya. Ternyata, makna dari kecerdasan eksistensial adalah suatu keadaan pemahaman seseorang tentang hakikat dan tujuan dari eksistensinya dalam kehidupan ini. Hal ini sesungguhnya terangkum dalam pelajaran aqidah dan akhlaq dalam Islam.
Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh riwayat pendidikan formalnya. Sebab untuk bertahan hidup, orang membutuhkan bekal-bekal kecerdasan yang tidak hanya di dapat di sekolah. Maka dari itu kita sering mendengar kisah unik orang-orang berpengaruh dalam sejarah. Ada Einstein yang pernah dapat nilai F di pelajaran Fisika. Ada Thomas Alpha Edison yang pernah dijuluki otak udang oleh kawan-kawan sekolahnya, ada Gusdur yang pernah tidak naik kelas, dan banyak kisah menarik dibalik perjalanan kehidupan para tokoh seperti mereka. Hal ini menjadi contoh bahwa pembelajaran yang dihadirkan dalam diri seseorang membutuhkan waktu, ruang alam dan ruang pengalaman. Kita menjadi sadar bahwa faktor lingkungan sangat penting untuk membangun kecerdasan. Lalu; percayakah kita akan keberhasilan masa depan anak-anak kita jika kita menyerahkan pendidikannya hanya kepada sekolah semata-mata?
Pendidikan di Sekolah Pertama
Al Ummu madrastul ula, ibu adalah sekolah pertama. kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam. Ibu, adalah sekolah tanpa batasan ruang dan cara, perpustakaan rujukan anak yang paling lengkap dan dipercaya, mata air kasih sayang yang tidak pernah kering, tempat belajar, bertanya, memperhatikan dan belajar menyampaikan, memahami perasaan dan mencurahkan, tempat anak merasakan aman. Anak belajar dari ibu lewat sentuhan, ucapan-ucapan dan buaian tidurnya. Anak-anak selalu dapat belajar lewat ibunya, dan itu pengalaman yang sangat penting. Kita ingat imam Syafi’I, bersama kenangan manis tentang ibundanya, ia menulis satu kitab fiqih yang sangat terkenal itu, al Umm judulnya, artinya ibu, yang memang ia dedikasikan untuk ibundanya tercinta.
Kita telah menyaksikan, bahwa pendidikan dimulai di rumah-rumah muslim lewat tangan-tangan para ibunda. Peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh mangabaikan peningkatan kualitas para ibu dan calon ibu.
(sudah dipublish di buletin As Syirkah edisi Mei 2010)
Ummu Wafi
10 Mei 2010
No comments:
Post a Comment