Halaman

Thursday, May 20, 2010

Harapanku... gemuruh dalam diam

Sebelum Kau hadir, aku berpuisi, andai akan Allah jadikan lagi seorang Umar bin Abdul Aziz, Muhammad al Fatih, dan pahlawan semisal mereka di abad ini, semoga Allah jadikan aku ibundanya...
Dan kau hadir dalam kandungan, tanpa kesulitan fisik yang berarti. Saat para ibunda cerdas rajin mengajak janin berbicara, aku malu hati berbicara padamu. Saat para orangtua berprestasi memperdengarkan orchestra juga membacakan buku, aku hanya menyanyi sendiri dan membaca buku dalam sepi. Aku andalkan satu buku saja, karena mimpiku, kubaca dengan cepat-cepat karena tebalnya sebuah karya imam Suyuthi: Tarikh Khulafa. Membaca al Qur'an?, ah betapa mindernya aku, dan sang ayahnya yang hafal 30 juz al Qur'an pun begitu sibuk dan pemalu untuk banyak-banyak memperdengarkan alqur'an secara langsung kepadamu. Semoga bukan karena kami tak menghargaimu nak, tapi mungkin karena kami begitu canggung dengan kehadiranmu..
Ibunda penyabar bisa mendidik janin dengan kestabilan emosinya, aku ibunda yang kerap menyimpan amarah dan egois, padahal aku sedang mengandungmu. Begitu juga caraku mengisi waktu bersamamu, lebih banyak kuhabiskan di rumah.. semoga tidak berarti aku sedang miskin amal shalih.
Lalu, kaupun terlahir.. atas karunia Allah yang tak ternilai ini, kau begitu kusayang.. kau adalah kesayangan kami, namun aku segera tahu, aku masih harus belajar bagaimana caranya menyayangimu...
Putraku, anak pertamaku... Kini kau tumbuh sempurna, badanmu tidak gemuk, biasa saja. Gigimu ompong di depan, dan ada bekas luka dan jahitan di dahimu. Rambutmu bergelombang lembut, kulitmu kuning kecoklatan. Soal kecerdasan, di usiamu yang ke 5, kau belum bisa membaca tulisan latin sebagaimana anak-anak luarbiasa banyak yang sudah bisa membacanya di usia 2 tahun. Juga Iqro, betapapun kadang begitu galaknya ummi memintamu belajar membacanya, kau mandeg di iqro 3. Urusan bicara, kau masih keliru kalimat pasif dan kalimat aktif, belum lagi kosakatamu yang cukup terbatas, apalagi bahasa asing, jangankan Arab, Inggris pun belum. Mungkin ummimu ini kurang memberi rangsangan, atau ummi memang kurang pandai bercakap-cakap denganmu, apalgi pake bahasa asing. Tapi kau kini sudah masuk TK, ada lah sedikit keterampilan menulis dan membaca yang mulai bisa kau ikuti.
Soal pengendalian emosi, kutahu betapa kita sering perang bathin setiap hari.. dan kau selalu ingin menang sendiri, aku hampir terbiasa, terbiasa berusaha memenangkan peperangan denganmu yang masih kecil, ya, tapi aku juga belajar banyak, bahwa kita punya banyak persamaan, sama-sama mau menang. Soal menyelesaikan masalah dan kemandirian, kau sering begitu mengandalkan ummi, bahkan untuk berpakaian.. kau minta dilayani. Kau masih sering menangis keras persis adikmu yang masih kecil, juga kerap mengganggu dan mengucapkan kalimat yang kurang lembut (kalau tidak mau dikatakan teriak-teriak) kepada yang lebih tua..
Soal motorik, kau main sepeda begitu kau dibelikan sepeda, dan belum bisa berlatih dengan sepeda anak lain. Pergaulanmu normal-normal saja, cenderung pemalu tapi mudah tersinggung, agak merepotkan.. karena dengan begitu, tidak semua anak cocok jadi temanmu. Kau itu, polos-polos wangkeng... just the way u are. Namun kutahu kau berhati lembut dan penyayang, mengngat kau menangisi kura-kuramu yang mati semalaman.
Kini, di sisi tubuhmu yang tertidur lelap, dalam aroma ompol mu yang menyeruak, aku ingin menyampaikan gemuruh harapanku... dalam diamku, di tulisan ini yang mungkin tak perlu kau baca.
Tak kan kulepas mimpiku padamu, Nak.. karena Allahlah yang mengizinkan hatiku mendekapnya. Kau adalah anak super ku, karena kekuranganmu adalah pelajaran bagi kita sebagaimana kelebihanmu ada di hatimu.. bagiku, kau tetap pahlawan yang kucari-cari.
Mungkin ummi begitu kekurangan membekali dan mendidikmu selama ini, tapi ummi tak ingin berhenti. Ummi tak akan berhenti berharap, bahwa dengan izin Allah, Kau akan memnjadi muslim pemimpin.. Semoga Allah mendidikmu, dan mendidik ummi dalam mendidikmu.
Anakku, apakah aku harus memaksakanmu masuk sekolah internasional agar kau berwawasan internasional? haruskah kau ikut kursus membaca sampai terlatih sebelum masuk sekolah dasar? Haruskah kau kupaksa berdisplin melewati hari-harimu? Sebanyak apa aku melarangmu nonton TV, atau bermain berlama-lama? Bagaimana memancingmu gemar mengaji sebagaimana gemarnya kau bermain? Bagaimana bersikap lembut dengan keras kepala nya keinginanmu.. atau berkeras hati kepada jiwamu yang begitu sensitif?
Anakku.. Aku lemah karena aku begitu sulit menciptakan lingkungan super untuk merangsang potensimu.. karena aku tak sendiri. Aku sering merasa payah bila melihatmu mengeluh capek atau merasa malas. Aku habis akal jika kau sudah menawar begitu pandai bila kupaksa mengaji.. Aku sering terpancing emosi atas perilaku keras dan permintaan tak masuk akal dari mulutmu yang terdengar nyaring.. aku tetap ibu yang emosionil.
Sudah kuputuskan bahwa aku akan harus terus belajar dan beristighfar.. mungkin terasa jauh antara harapan dan perbuatan.
Pahlawanku, Wafi Muqtada Ahmad... Ku titipkan kau pada Allah yang akan selalu menjaga, mendidik, memeliharamu dari kemaksiatan.. lewat doa-doaku setiap hari. Mungkin ummi mu ini tak pandai mengajarimu hal-hal di masa kecil, tapi semoga kau bisa memutuskan banyak hal positif dengan tekadmu yang membaja.
Sungguh Wafiku.. kau akan menjadi penghafal Al Qur'an, dengan mudah, jika kau sudah berazzam, bukan karena ummi yang meamaksa-maksa. Bila sudah tiba waktunya, kau akan bisa membaca dan menulis sendiri. Bila kau sudah merasa butuh informasi, semoga minat bacamu akan meninggi. Bila kau sudah menyaksikan lingkungan dan dunia, semoga kau memutuskan untuk menjadi agen perubahan yang membawa banyak mashlahat dalam kebangkitan ummat. Dan karena keputusanmu sendiri, semoga kau selalu menghindari maksiat dan mencari amal-amal shalih, hingga kau rengkuh syahid yang mengantarkan aku dan keluarga kita juga masuk surga bersama-sama...
Aku, semoga tengah berusaha, salah satunya dengan tidak memaksamu, dengan tidak menambah ruwet hatimu yang masih kanak-kanak..
Anakku wafi, berbahagialah... ceriakan hari-harimu, kenali kebaikan dan keburukan agar kau bisa melaksanakan yang satu dan meninggalkan yang lainnya, dengan keputusanmu sendiri.. karena kau seorang pemimpin...
Ummimu ini bermimpi.. hanya Allah yang tahu...

21 Mei 2010

ummu Wafi

No comments:

Post a Comment